Sekjen PBB: Kelanjutan Konflik di Gaza Dapat Mencapai Titik Kulminasi yang Tak Dapat Dibendung

INTIP24 News – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada konferensi pers di New York pada hari Senin mengungkapkan, ketidakstabilan yang terjadi di Timur Tengah saat ini mungkin akan menjadi tidak terkendali.

Guterres sekali lagi mengingatkan bahwa krisis yang dipicu oleh serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober lalu terhadap Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera lebih dari 200 orang.
Disusul blokade, pemboman, dan serangan darat Israel yang telah menewaskan hampir 24.000 orang warga Palestina di Gaza.

Banyaknya korban jiwa warga sipil di Gaza telah mengakibatkan kecaman internasional yang luas atas tindakan Israel, dan telah melibatkan kelompok militan Lebanon Hizbullah dan Houthi Yaman ke dalam konflik tersebut.

“Ketegangan juga sangat tinggi di Laut Merah dan wilayah sekitarnya, dan tidak mungkin lagi dapat dibendung,” kata Guterres, sambil menambahkan bahwa ia khawatir bahwa “balas tembak setiap hari” berisiko “memicu eskalasi yang lebih luas antara Israel dan Lebanon dan secara mendalam mempengaruhi stabilitas regional.”

Bacaan Lainnya

Meskipun Sekretaris Jenderal mengecam tindakan Hamas, ia juga mengecam operasi Israel sebagai “hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina,” dengan mengatakan bahwa operasi tersebut telah menyebabkan “tingkat korban sipil yang belum pernah terjadi sebelumnya,” dan mencatat bahwa “sebagian besar dari mereka yang terbunuh adalah wanita dan anak-anak.”

Pekan lalu, kelompok Houthi berjanji untuk terus menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Israel dan AS di Laut Merah “sampai pengepungan terhadap Gaza dicabut.”

Houthi juga menargetkan kapal perang Inggris dan Amerika yang beroperasi di wilayah tersebut sebagai bagian dari operasi maritim internasional yang diselenggarakan bulan lalu oleh Amerika untuk melindungi pelayaran di wilayah tersebut.

“Meningkatnya ketegangan” juga menyebabkan Iran mengirim salah satu kapal perangnya ke Laut Merah awal bulan ini.

Pesawat tempur AS dan Inggris menyerang sasaran Houthi di Yaman dengan sekitar 70 serangan udara pada Kamis dan Jumat lalu.
Meskipun juru bicara Keamanan Nasional AS, John Kirby, menyatakan bahwa serangan tersebut memberikan “dampak yang baik”, namun laporan New York Times menyatakan bahwa sekitar tiga perempat aset militer Houthi masih utuh.

Moskow mengutuk serangan terhadap Yaman, menyebutnya “ilegal” dan menyatakan bahwa serangan tersebut dilakukan dengan melanggar Piagam PBB.

Sekretaris Jenderal PBB 
mengatakan bahwa “semakin lama konflik di Gaza berlanjut, semakin besar risiko eskalasi dan kesalahan perhitungan.”

Sumber: RT
Editor: Hasan M

Pos terkait


Blibli