Semangat Tak Boleh Padam hingga Akhir

Oleh: Nursalim Turatea

ARY Ginanjar Agustian, tokoh pencetus ide sekaligus pendiri ESQ Leadership Center, pernah menceritakan sebuah kisah hikmah tentang ada seorang arsitek top.

“Karya-karyanya amatlah bagus, sehingga membikin kagum siapa saja,” jelasnya.

Hingga di suatu masa sang arsitek ingin mengundurkan diri. Namun, bosnya punya satu permintaan lain.

Bacaan Lainnya

”Saya ingin Anda mengerjakan sebuah rumah. Ini rumah terakhir,” janjinya. Sang arsitek pun menyanggupinya.

Maka mulailah dia bekerja. Namun semangat kali ini berbeda. Jika dulu dia sangat teliti, kini asal-asalan. Sedikit-sedikit penat, padahal kerja juga tak maksimal. Jarang masuk pula.

”Ah, untuk apa saya kerjakan dengan baik, toh sebentar lagi saya akan keluar dari perusahaan ini,” pikirnya.

Setelah pekerjaannya usai, dia menghadap ke ruang bosnya. Sang bos pun berterima kasih. Namun, hati si arsitek terguncang manakala si bos menghadiahkan rumah terakhir itu untuk dirinya, sebagai penghargaan perusahaan atas dedikasinya selama ini.

Si arsitek pun terdiam. Air matanya menetes. Dia menangis. Alangkah malunya. Mengapa di saat terakhir, dia tak bekerja dengan baik. ”Selamat menikmati rumah baru Anda!” ucap sang Bos.

Apa pesan moral dari kisah ini? Silakan tulis di kolom komentar.

Bagaimana menurut Anda? (Nursalim Turatea)





Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *