Keadilan sosial kita sudah mampet dan mati suri!
Pajak yang kodratnya jadi alat pemerataan ekonomi, sekarang malah disulap jadi mesin pemeras otomatis buat warga biasa. Kita—rakyat jelata yang asetnya mentok di jemuran rumah—dipaksa taat asas, sementara kaum elit dan korporasi raksasa asing dibiarkan asyik berdansa memanfaatkan celah hukum dan yurisdiksi tax haven.
Mereka yang kenyang, kita yang disuruh cuci piring!
Ketika kas negara bolong akibat ulah para konglomerat yang lihai tiarap dari pajak, apa solusi jenius pemerintah? Gampang! Tinggal naikkan saja PPN dan pajak konsumsi. Hasilnya? Rakyat kecil langsung megap-megap. Jutaan rakyat yang katanya “pasar besar potensial” ini sekarang kehilangan daya beli, jangankan buat investasi, buat sekadar bertahan hidup saja sudah ngos-ngosan!
Pemerintah harusnya melek dan beresin kekacauan sistemik ini, bukan malah sibuk memelihara budaya upeti. Bagaimana negara mau maju kalau dari level Ketua RT sampai level Menteri masih hobi minta angpao?
Berhentilah mencekik leher rakyat yang sudah kering, sementara para penjahat kerah putih dibiarkan melenggang tanpa beban, juga Asing dikasih Pph 0% setengah abad.










































