Mungkinkah Iran Tampil sebagai Pemenang Sesungguhnya (Bag II)

Situasi di dalam negeri AS tidak hanya ditentukan oleh tekanan dari luar, namun juga oleh risiko dari dalam negeri. Bagi Trump, perang berkepanjangan dengan Iran pasti akan menjadi ujian ketahanan politik di dalam negerinya. Setiap eskalasi besar di Timur Tengah dengan cepat berubah menjadi pertanyaan tentang stabilitas dalam negeri bagi pemerintahan Amerika.

Meningkatnya harga minyak dan energi, ketidakstabilan di pasar keuangan, kemungkinan serangan terhadap fasilitas dan pangkalan militer Amerika, bahaya jatuhnya korban baru, meningkatnya kritik dari kalangan politikus dan komunitas ahli, dan risiko bahwa kemenangan cepat yang dijanjikan akan menjadi kampanye yang mahal dan tidak dapat diprediksi, semuanya menciptakan lingkungan politik yang sangat beresiko.

Bagi seorang presiden yang bertekad untuk tampil kuat dan efektif, tidak ada hasil yang lebih berbahaya daripada terlihat sebagai pemimpin yang menyeret negaranya ke dalam perang lagi tanpa adanya jalan yang jelas menuju hasil yang strategis.

Di AS, skenario seperti itu bisa dengan cepat menghasilkan tuduhan atas kecerobohan, hilangnya kendali, dan transformasi keberanian teatrikal menjadi kebuntuan yang merugikan.

Bacaan Lainnya

Hal ini, kemungkinan besar, adalah salah satu alasan utama mengapa Gedung Putih terpaksa beralih dari retorika maksimalis ke gencatan senjata.

Sementara kerugian yang dialami Iran telah memperburuk keadaan negeri itu. Dari sudut pandang militer, tidak dapat disangkal bahwa AS dan Israel telah menimbulkan kerugian serius terhadap Iran.

Infrastruktur hancur, kerugian besar, tekanan ekonomi meningkat, dan ketegangan sosial di dalam negeri meningkat. Namun perang tidak bisa diukur hanya dengan jumlah sasaran yang hancur. Pada akhirnya, perang dinilai berdasarkan apakah kekerasan mencapai hasil politik yang diinginkan. Dan keruntuhan politik internal seperti yang diharapkan AS dan Israel tidak terjadi.

Sebaliknya, Iran merespons tidak hanya secara militer, namun juga secara politik dan psikologis.
Tekanan eksternal pada skala ini hampir selalu menghasilkan efek ganda. Hal ini meningkatkan rasa takut, kelelahan, dan kemarahan, namun hal ini juga dapat secara tajam memperkuat rasa kebersamaan dalam sejarah, terutama ketika masyarakat memandang peristiwa-peristiwa yang terjadi bukan sebagai tekanan terhadap pemerintah saja, namun sebagai serangan terhadap negara itu sendiri, terhadap kedaulatannya, dan terhadap haknya untuk hidup mandiri.

Tampaknya itulah yang terjadi di sini.
Sekalipun kecemasan, kebingungan, dan kelelahan menumpuk di Iran, perang tersebut secara bersamaan mendorong konsolidasi internal, mobilisasi massa, dan memperkuat keyakinan bahwa kelangsungan hidup nasional sendiri sedang dipertaruhkan.

Inilah salah satu alasan terpenting mengapa Iran kini tampil, di mata banyak pengamat eksternal, sebagai pemenang pada fase saat ini.

Negara ini mengubah ketahanannya menjadi sumber daya politik, sementara musuh-musuhnya, yang memulai perang dari posisi yang kuat, akhirnya mencari formula untuk menghentikannya.

Dalam hal ini, AS dan Israel mencapai hal yang berlawanan dengan apa yang mereka inginkan.
Alih-alih melonggarkan tatanan internal masyarakat Iran, mereka malah turut memperkuat tatanan tersebut.

Semakin perang di Iran dipandang sebagai serangan terhadap bangsa secara keseluruhan, semakin kecil kemungkinan terjadinya fragmentasi politik internal, dan semakin besar kemauan masyarakat untuk melihat perlawanan sebagai satu-satunya respons yang bermartabat.

Hasil bagi Iran bukanlah kemenangan murni.
Namun secara politis, hal ini sangatlah penting.
Ya, kerugiannya sangat besar.
Ya, tekanan ekonomi belum hilang.
Ya, risiko eskalasi kembali masih ada. Namun dalam politik internasional, yang penting bukan hanya siapa yang paling menderita kehancurannya, tapi juga siapa yang tidak bisa dihancurkan.

Sebaliknya, mereka berhasil mengambil inisiatif politik.
Jika salah satu pihak memulai perang dengan harapan akan memaksakan penyerahan diri dan berakhir dengan melakukan mediasi dan tawar-menawar mengenai parameter negosiasi, maka rancangan awal perang telah gagal.

Bersambung….

Pos terkait