Kancil, dalam khazanah dongeng negeri kita dikenal sebagai tokoh hewan cerdik di belantara hutan yang mampu keluar dari situasi paling sulit melalui kecerdikan, adaptasi, dan kemampuan membaca situasi. Tokoh kancil dikagumi bukan karena kekuatan dan kebesarannya, melainkan karena ketepatan membaca momentum.
Baru-baru ini, analogi hewan kancil disematkan kepada tiga tokoh politik Indonesia yang memiliki karakter politik diibaratkan seperti kancil. Sebutan kancil dalam metafora karakter politik dilontarkan oleh presiden Prabowo Subianto saat pidato pada Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (23/7) lalu.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut ada tiga tokoh politik yang diibaratkannya sebagai “kancil” karena dinilai cerdik.
Ketiga tokoh yang dimaksud adalah Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, Ketua Harian Partai Gerindra Sufmi Dasco Ahmad, dan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia.
“Memang di Indonesia ini ada dua pemimpin kancil, Gus Imin dan Sufmi Dasco,” ujar Prabowo bernada seloroh.
Prabowo juga melontarkan candaan kepada Dasco yang disebutnya kini telah naik pangkat.
“Kalau Pak Dasco sekarang sudah jadi profesor, dulu provokator,” ucap Prabowo yang kembali mengundang gelak tawa para tamu.
Selanjutnya, Prabowo menunjuk Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebagai kancil ketiga. Pernyataan itu langsung disambut tawa Bahlil dan para hadirin.
Di dalam kancah politik di dalam.negeri, sebuah metafora memiliki daya jelajah yang lebih jauh daripada pidato panjang yang sarat data.
Metafora mampu mengungkap struktur kekuasaan yang tersembunyi, menjelaskan relasi yang rumit dengan bahasa yang dapat dipahami publik, sekaligus menyimpan pesan yang hanya terbaca oleh mereka yang memahami medan politik secara lebih mendalam.
Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto melontarkan kelakar tentang tiga sosok “kancil” dalam panggung politik nasional, pernyataan tersebut kiranya layak dibaca lebih dari sekadar humor politik.
Di balik tawa yang menyertainya, tersimpan pengakuan simbolik terhadap peran strategis tiga figur yang menjadi simpul penting dalam orbit kekuasaan Indonesia hari ini.
Peran tokoh kancil ini dinilai mampu menjaga keberlangsungan sistem politik yang sedang bekerja. Sehingga tidak semata ditentukan oleh elite yang paling kuat, melainkan oleh elite yang paling adaptif.
Bila publik populer saat ini mengenal istilah NPD sebagai kelompok musik yang sedang digandrungi generasi muda, maka dalam politik Indonesia, trio “NPD” dapat dibaca sebagai sebuah konfigurasi elite yang menjalankan fungsi berbeda namun saling melengkapi, Negosiator, Penghubung, dan Dinamisator.
Muhaimin Iskandar berada pada posisi Negosiator. Karier politiknya dibangun melalui jalur komunitas sosial-kultural yang panjang, terutama dalam lanskap Nahdlatul Ulama dan jaringan masyarakat sipil berbasis keagamaan.
Modal utama yang dimilikinya bukan sekadar kekuatan elektoral, melainkan kemampuan membaca denyut komunitas dan menerjemahkannya ke dalam bahasa politik nasional.
Sufmi Dasco Ahmad menjalankan fungsi yang berbeda. Ia merupakan Penghubung. Dalam sistem politik modern, keberhasilan pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh kualitas kebijakan, tetapi juga oleh kemampuan menjembatani berbagai pusat kepentingan yang tersebar.
Dasco menempati ruang tersebut. Ia bergerak di antara pemerintah, DPR, partai politik, kelompok kepentingan, hingga aktor yang berada di luar lingkar kekuasaan formal.
Dalam perspektif teori brokerage politics, figur seperti ini berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan titik-titik yang sebelumnya terpisah.
Broker politik bukan sekadar pembawa pesan. Ia adalah penerjemah kepentingan. Ia memahami bahasa birokrasi sekaligus bahasa politik praktis.
Ia dinilai mampu membuat perbedaan tidak berkembang menjadi konflik terbuka dan mengubah potensi gesekan menjadi ruang kompromi.
Sementara itu, Bahlil Lahadalia menempati posisi Dinamisator. Ia mewakili tipe elite yang berorientasi pada gerak dan hasil.
Jika negosiator mengelola kesepakatan dan penghubung menjaga komunikasi, maka dinamisator memastikan keputusan benar-benar bergerak menjadi tindakan.
Dalam kerangka policy entrepreneurship, figur seperti Bahlil berperan sebagai operator perubahan. Ia tidak berhenti pada produksi gagasan, tetapi mendorong gagasan tersebut memasuki arena implementasi.
Karakter semacam ini menjadi semakin penting dalam era ketika legitimasi politik semakin ditentukan oleh capaian konkret, bukan semata narasi.
Karena itu, ketiga figur ini sesungguhnya bukan sekadar individu. Mereka adalah representasi fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh sebuah sistem politik yang ingin tetap stabil sekaligus produktif.
Oleh: Hasan Munawar, dari berbagai sumber.










































