Berhentilah Menyalahkan Hujan, Bencana Kali Ini Akumulasi Krisis Ekologis 2 Dekade Terakhir

Oleh: Hasan Munawar

Bencana besar hidrometeorologi berupa banjir bandang, pergeseran tanah hingga longsor yang terjadi sepekan ini di tiga provinsi; Aceh, Sumut dan Sumbar bukan semata mata disebabkan oleh curah hujan ekstrim dengan intensitas tinggi.

Bencana kali ini merupakan akumulasi krisis ekologis yang terjadi selama dua dekade terakhir.

Air bah berwarna cokelat kehitaman, hingga kayu gelondongan yang ikut hanyut terbawa derasnya banjir memperlihatkan secara gamblang seberapa parah kerusakan lingkungan di hulu sungai.

Bacaan Lainnya

Kawasan Bukit Barisan yang membentang dari Lampung, hingga Aceh, merupakan hulu bagi banyak sungai yang mengalir di sepanjang Pulau Sumatra.

Letak Indonesia yang berada di garis khatulistiwa dan dikelilingi oleh laut pun mendukung proses pembentukan awan. Matahari bersinar setiap hari, ditambah stok air melimpah dari laut adalah perpaduan yang sempurna untuk menciptakan hujan ekstrim dengan intensitas tinggi.

Degradasi lingkungan akibat deforestasi memperburuk bencana hidrometeorologis, sekaligus meningkatkan laju erosi dan sedimentasi. Penduduk yang bermukim di bagian hilir sungai adalah kelompok paling terdampak, saat terjadi bencana alam berupa banjir.

Siklon Tropis Senyar dan bibit siklon 95B yang terjadi di bagian utara Pulau Sumatra memicu hujan ekstrem dalam waktu singkat. Sungai-sungai tak lagi mampu menahan volume air hujan, lalu menimbulkan banjir bandang.

Kerusakan lingkungan yang telah berlangsung lama ditambah kemunculan badai tropis adalah perpaduan sempurna untuk melahirkan bencana. Badai tropis menciptakan hujan ekstrem, sedangkan deforestasi membuat tanah kehilangan daya serap terhadap air.

Banyak studi iklim mengungkapkan bahwa perubahan iklim membuat intensitas badai tropis cenderung meningkat dan kuat. Laut yang hangat akibat pemanasan global berperan sebagai bahan bakar untuk membangkitkan siklon tropis.

Indonesia diapit dua lokasi paling subur siklon tropis dunia, yakni barat laut Samudera Pasifik dan tenggara Samudera Hindia. Posisi Indonesia yang didominasi laut membuat negara ini rentan terhadap dampak destruktif dari perubahan iklim.

Kemunculan badai tropis yang semakin kuat dan semakin sering adalah contoh kecil dari pengaruh perubahan iklim.

Ketika bencana banjir bandang terjadi yang rugi bukan hanya masyarakat bawah, tapi juga pemerintah dan sektor swasta. Dana APBD atau APBN yang seharusnya dipakai untuk membiayai berbagai program pembangunan terpaksa harus dialokasikan untuk memperbaiki infrastruktur publik yang rusak akibat diterjang banjir.

Begitupun sektor swasta yang juga menanggung rugi karena terpaksa harus berhenti beroperasi akibat jalan dan jembatan putus, atau listrik padam dalam waktu yang lama. Jika kantor atau sarana produksi mereka terendam banjir tentu nilai kerugian yang ditanggung menjadi jauh lebih besar.

Peristiwa banjir bandang di Pulau Sumatra punya akar masalah serupa dengan banjir yang pernah melanda Pulau Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB) pada awal tahun 2025. Deforestasi hutan menjadi ladang jagung dan tambang mineral menyebabkan sungai-sungai di daerah itu meluap.

Pemulihan hutan dan daerah tangkapan air, serta reklamasi tambang merupakan solusi paling ideal agar tidak ada lagi bencana banjir di masa depan. Pepohonan lokal yang punya sistem perakaran kuat, seperti meranti, damar, beringin, dan gaharu harus ditanam di lahan-lahan yang gundul.

Pemerintah harus lebih bijak dalam memutuskan satu kebijakan menyangkut ejsploitasi sumber daya alam, tegas menegakkan aturan pelarangan pembukaan lahan di kawasan hutan dan lereng curam.

Pemberlakuan moratorium total terhadap aktivitas penebangan yang dilakukan tanpa studi amdal di kawasan hutan maupun daerah aliran sungai.





Pos terkait