Diplomasi di Mulut Buaya: Antara Fiqh Siyasah dan Jebakan Batman | ET Hadi Saputra

Tulisan Sandy Syafrudin Nina menyentuh dan dalam. Dengan diksi yang membelai ulu hati, ia mencoba mendinginkan kepala kita yang mendidih melihat bendera Merah Putih bersanding di meja perundingan buatan Amerika.

Sandy menyebutnya masuk ke “Kandang Singa”. Saya lebih suka menyebutnya: Diplomasi di Mulut Buaya.

Kenapa? Karena singa biasanya membunuh untuk makan. Buaya? Ia menyeret mangsanya ke dalam air, menyimpannya di sela-sela akar bakau, membiarkannya membusuk pelan-pelan sebelum disantap. Politik Amerika di Timur Tengah sering seperti itu: membusukkan lawan dari dalam.

Mari kita bedah tulisan Sandy dengan pisau hukum dan realpolitik. Jangan pakai perasaan. Pakai logika besi.

Bacaan Lainnya

Doktrin Dar’ul Mafasid

Sandy benar soal dalil Dar’ul Mafasid Muqaddam ‘ala Jalbil Mashalih. Menolak kerusakan lebih utama daripada mengambil manfaat. Dalam hukum—baik Islam maupun internasional—ini dikenal sebagai doctrine of necessity atau keadaan darurat.

Umat Islam, kata Sandy, sedang dalam fase istidh’af (lemah). Kita tidak punya pedang. Kita tidak punya hulu ledak nuklir yang siap meluncur ke Tel Aviv (kecuali Pakistan yang tombolnya entah dipegang siapa).

Maka, duduk satu meja dengan “penjahat” bukan pengakuan atas kejahatan mereka. Itu upaya litigasi terakhir. Seperti settlement di luar pengadilan ketika kita tahu hakimnya sudah disogok. Kita tahu kita akan kalah kalau sidang dilanjutkan (perang terbuka), maka kita cari jalan damai yang paling tidak menyakitkan: akhaffu dhararain—bahaya yang paling ringan.

Peran 8 Negara: Pion atau Benteng?

Analisis Sandy soal peran masing-masing negara tajam.

Turki sebagai “rem” NATO.
Mesir dan Yordania sebagai pemegang kunci gerbang fisik.
Saudi, Qatar, UEA sebagai dompet berjalan (cash cow).
Pakistan sebagai hantu nuklir.
Indonesia? Sebagai “stempel moral”.

Posisi Indonesia yang dibawa Presiden Prabowo Subianto paling unik. Kita tidak punya irisan wilayah. Uang kita tidak sebanyak Qatar. Tapi kita punya 280 juta nyawa dan konstitusi anti-penjajahan yang jelas.

Prabowo, jenderal lapangan, paham betul arti terrain (medan tempur). Ia tahu medan tempur kali ini bukan di bukit Gaza, melainkan di meja oval Washington. Ia membawa Wamenlu Anis Matta. Duet maut: Prabowo membawa wibawa militer dan kedaulatan negara, Anis Matta membawa narasi ukhuwah dan diplomasi langit.

Sandy menyebut ini kolaborasi nurani. Saya melihatnya sebagai strategi “Polisi Baik, Polisi Jahat” (Good Cop, Bad Cop). Prabowo menekan dengan bahasa strategis pertahanan, Anis Matta masuk lewat jalur diplomasi Islam.

Jebakan Fiqh Tamkin?

Satu kritik untuk Sandy: hati-hati menggunakan dalil Nabi Yusuf.

Nabi Yusuf masuk ke pemerintahan Raja Mesir karena punya bargaining power: menafsirkan mimpi dan memberi solusi krisis pangan. Raja butuh Yusuf.

Pertanyaannya sekarang: apakah Amerika dan Israel butuh kita? Atau mereka hanya butuh legitimasi kita?

Jika kehadiran 8 negara Islam ini hanya dipakai Amerika untuk bilang ke dunia, “Lihat, negara Islam saja setuju dengan rencana kami,” maka ini bukan tamkin. Ini kooptasi. Kita tidak menyusup ke sistem untuk memperbaikinya, melainkan dijadikan “bemper” mobil yang akan menabrak tembok.

Inilah risiko hukum terbesarnya. Dalam hukum perikatan, kesepakatan di bawah tekanan (duress) batal demi hukum. Tapi di hukum internasional, siapa yang kuat, dia yang bikin aturan: might makes right.

Kesimpulan: Membeli Waktu

Saya sepakat dengan konklusi Sandy, meski dengan catatan tebal. Kita tidak punya pilihan lain saat ini. Berteriak dari luar pagar sambil bakar ban tidak akan membuka gerbang Rafah.

Langkah Prabowo dan 7 pemimpin lain adalah buying time—membeli waktu. Agar Gaza tidak rata dengan tanah hari ini. Agar anak-anak Palestina bisa bernapas besok pagi.

Ini perjudian nyawa. Seperti kancil yang berunding dengan sekawanan serigala soal pembagian jatah daging. Kancil tidak punya taring. Ia hanya punya otak.

Semoga otak para pemimpin kita cukup encer untuk tidak ikut dimakan sebagai hidangan penutup.

Kita dukung dengan doa. Tapi mata kita harus tetap melotot. Jangan sampai “kemerdekaan Palestina” di draf perjanjian ditulis dengan tinta luntur yang hilang begitu hujan peluru turun lagi.

Pos terkait