H. ABDULLAH ASSEGAF Bapak Pembangunan Tangerang dari Pakulonan Barat

TANGERANG|INTIP24News.com – H. Abdullah Assegaf, yang akrab disapa Wan Duloh atau Pak Haji Abdullah, merupakan salah satu tokoh masyarakat Tangerang yang memiliki jejak panjang dalam perjuangan, pembangunan, pendidikan, serta kehidupan sosial kemasyarakatan.

Sosoknya dikenal luas sebagai pribadi yang dermawan, berwibawa dan karismatik. Kiprahnya dalam membangun berbagai fasilitas publik dan pendidikan membuat namanya hingga kini dikenang sebagai salah satu putra terbaik Pakulonan Barat, bahkan sering disebut sebagai “Bapak Pembangunan Tangerang.”

Lahir dari Keluarga Terpandang

H. Abdullah Assegaf lahir pada 1925, dari pasangan Habib Usman bin Zein Assegaf dan Hj. Syarifah binti Sa’adi.Ayahnya, Habib Usman, merupakan salah seorang tokoh yang pernah menimba pendidikan di Hadramaut dan disebut berada dalam satu generasi dengan Habib Ali Al-Habsyi Kwitang, salah satu ulama besar yang memiliki pengaruh luas di Jakarta dan sekitarnya.

Bacaan Lainnya

Lingkungan keluarga tersebut turut membentuk karakter H. Abdullah Assegaf sejak usia muda. Pendidikan agama, kedisiplinan, semangat perjuangan serta kepedulian terhadap masyarakat menjadi bagian yang melekat dalam perjalanan hidupnya.

Menempuh Pendidikan di HIS Tangerang

Perjalanan pendidikan H. Abdullah dimulai di HIS (Hollandsch-Inlandsche School) Tangerang, yang pada masa itu berada di sekitar kawasan Pasar Anyar Tangerang. Di sekolah tersebut, ia berada dalam satu angkatan dengan H. Boim Ibrohim bin H. Sahib.

Persahabatan yang terjalin sejak masa sekolah tersebut kelak berkembang menjadi hubungan kekeluargaan. Putri H. Abdullah, Hj. Chandra Elia, menikah dengan H. Ismet Iskandar, yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dan pernah menjabat sebagai Bupati Tangerang dua Periode.

Terjun ke Dunia Perjuangan

Semangat perjuangan H. Abdullah Assegaf tidak berhenti pada pendidikan. Pada masa awal kemerdekaan Indonesia, ia turut masuk dalam lingkungan pasukan Divisi Siliwangi di bawah kepemimpinan Jenderal A.H. Nasution.

Di tengah situasi bangsa yang baru merdeka dan penuh gejolak, H. Abdullah tidak hanya menjadi bagian dari perjuangan bersenjata, tetapi juga aktif mendorong generasi muda di wilayah Pakulonan Barat untuk ikut mengambil bagian dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh yang mempelopori para pemuda Pakulonan Barat agar memasuki dunia militer dan menjadi pejuang. Dari sinilah kemudian muncul sebutan “Lembur Pejuang” bagi Pakulonan Barat.

Sebutan tersebut tidak lepas dari banyaknya pemuda asal wilayah tersebut yang kemudian menjadi bagian dari militer Divisi Siliwangi, baik mereka yang menjalani dinas militer maupun yang berjuang di luar kedinasan.Jumlahnya disebut mencapai sekitar 28 orang.

Keluarga dan Kehidupan Sosial

Dalam kehidupan pribadi, H. Abdullah Assegaf menikah dengan Hj. Rumsiah binti H. Djamsura, perempuan asal Sangereng, Balaraja, yang akrab disapa Ibu Ucah. Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai sembilan orang anak.

Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup H. Abdullah.

Dari keturunannya, lahir sejumlah tokoh yang kemudian dikenal masyarakat luas, termasuk H. Zaki Iskandar, Mantan Bupati Tangerang dua Periode dan Ibu Intan Nurul Hikmah yang saat ini menjadi Wakil Bupati Tangerang.

Dari Pejuang Menjadi Penggerak Pembangunan

Setelah memilih pensiun dini sekitar 1954, H. Abdullah Assegaf tidak berhenti berkarya. Ia kemudian aktif menjalankan usaha sekaligus terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan di wilayah Tangerang.

Dalam kiprahnya tersebut, ia dikenal dekat dengan dua sahabat karibnya, yaitu H. Somawinata dan Letkol Muchdi, yang keduanya juga pernah dipercaya memimpin Kabupaten Tangerang sebagai bupati.

Pada masa itu, pembangunan Tangerang masih berada dalam tahap awal. Keterbatasan sarana pendidikan, tempat ibadah dan fasilitas masyarakat menjadi tantangan tersendiri. H. Abdullah mengambil bagian dalam menjawab kebutuhan tersebut.

Jejak Pembangunan yang Ditinggalkan

Salah satu kiprah pentingnya adalah keterlibatannya dalam pembangunan Masjid Agung Al-Ittihad Tangerang. Pembangunan masjid tersebut rampung pada 1961 dan menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan masyarakat Tangerang.

Tidak berhenti di bidang keagamaan, kepeduliannya juga merambah dunia pendidikan.Sejumlah pembangunan yang disebut menjadi bagian dari kiprahnya antara lain: Masjid Agung Al-Ittihad Tangerang, rampung 1961; SD Negeri Pakulonan Barat 1, 1965; Universitas Islam Syekh-Yusuf (UNIS) Tangerang, 1966; MTs Raudhatul Irfan Lengkong, 1968; Serta berbagai kegiatan pembangunan dan sosial kemasyarakatan lainnya.

Di bidang ekonomi, H. Abdullah juga tercatat turut berperan dalam pendirian Bank Bumi Daya bersama H. Ibrohim pada 1973.

Rangkaian kiprah tersebut menunjukkan bahwa perhatian H. Abdullah Assegaf tidak hanya tertuju pada satu bidang. Ia bergerak di berbagai sektor, mulai dari perjuangan, pendidikan, keagamaan, sosial, ekonomi hingga pembangunan fasilitas masyarakat.

Sosok yang Dikenang Masyarakat

H. Abdullah Assegaf wafat pada 1976. Jenazahnya dimakamkan di Makam Tonggoh, Pakulonan Barat, yang oleh masyarakat Pakulonan Barat dikenal pula sebagai makam keluarga besar H. Abdullah.

Meski telah puluhan tahun berpulang, nama dan kiprahnya tidak hilang dari ingatan masyarakat. Sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan pengabdiannya, nama H. Abdullah kemudian diabadikan menjadi nama jalan di kawasan Pakulonan Barat, yang dikenal sebagai Jalan H. Abdullah.

Bagi masyarakat Pakulonan Barat, nama tersebut bukan sekadar nama jalan. Ia menjadi pengingat terhadap sosok yang pernah mengabdikan hidupnya bagi masyarakat dan turut meletakkan fondasi pembangunan di wilayah Tangerang.

Warisan yang Melampaui Zaman

H. Abdullah Assegaf adalah gambaran seorang tokoh yang tidak hanya berbicara tentang pembangunan, tetapi ikut terlibat langsung dalam mewujudkannya.

Ia pernah berada di medan perjuangan, kemudian terjun ke dunia usaha dan pembangunan. Ia mendorong anak-anak muda menjadi pejuang, membangun sarana pendidikan, ikut mengembangkan tempat ibadah, serta mengambil bagian dalam penguatan perekonomian masyarakat.

Karena itu, sebutan “Bapak Pembangunan Tangerang” yang melekat kepadanya bukan semata-mata penghormatan, tetapi merupakan refleksi dari panjangnya jejak pengabdian yang ia tinggalkan.

H. Abdullah Assegaf adalah tokoh besar Tangerang, putra terbaik Pakulonan Barat, seorang pejuang, dermawan, penggerak pembangunan, serta sosok yang dikenal memiliki wibawa dan karisma.

Namanya mungkin telah melewati zaman, tetapi warisan perjuangan dan pembangunan yang ditinggalkannya terus hidup dalam ingatan masyarakat.

Dari Pakulonan Barat untuk Tangerang, H. Abdullah Assegaf meninggalkan sebuah warisan: bahwa pembangunan tidak hanya dibangun dengan gedung dan jalan, tetapi juga dengan pengabdian, keberanian, kepedulian dan ketulusan untuk masyarakat.

( Sumber Tiktok Rafi Zulfa )



Pos terkait