INTIP24 News – Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Nepal dan Tibet (perbatasan Tiongkok) Rabu, 26 Agustus 2026 telah menewaskan sedikitnya 550 orang, lebih dari 1.500 lain hilang hingga Jumat (28/8) pagi waktu setempat.
Bencana ini dipicu oleh runtuhnya sebagian gletser di Pegunungan Himalaya pada ketinggian 5.200 meter. Runtuhan es dan batu tersebut sempat membendung sungai di hulu sebelum akhirnya bendungan tersebut jebol dan melepaskan jutaan kubik air bercampur material longsor ke arah hilir dengan kecepatan tinggi.
Bencana catastrophe itu menyapu desa-desa, jalan, jembatan, dan fasilitas listrik.
Lebih dari 13.000 personel tentara dan polisi terlibat dalam upaya pencarian dan penyelamatan para korban.
Polisi Nepal mengatakan pada Kamis sore bahwa 359 jenazah telah ditemukan, sementara pihak berwenang Tiongkok telah mengkonfirmasi tiga kematian lainnya di Pelabuhan Gyirong di Tibet.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan kepada NDTV India pada Kamis pagi, Ribuan orang masih hilang di kedua sisi perbatasan.
“Kota demi kota telah musnah dalam hitungan jam,”
“Ribuan keluarga kehilangan rumah dan hilang hingga saat ini. Kami masih berusaha memastikan seberapa parah bencana tersebut.”
Khanal mengatakan sekitar 500 orang asing, sebagian besar peziarah rute Kailash-Mansarovar, tidak bisa dihubungi.
Ini termasuk sekitar 300 orang India yang dilaporkan hilang.
Departemen Pariwisata Nepal mengatakan di antara mereka yang hilang adalah 47 warga Amerika, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, 24 warga Kanada, dan 19 warga Malaysia, serta warga negara lebih dari 20 negara lainnya.
Empat warga Rusia juga termasuk di antara mereka yang belum ditemukan.
Sementara laporan dari Beijing mengatakan 558 orang hilang dalam banjir bandang, termasuk 260 warga negara asing, di Kabupaten Gyirong, Tibet.
Para pejabat Nepal telah menekankan bahwa tidak adanya kontak tidak berarti para pelancong tersebut terjebak dalam banjir, karena jalan-jalan, listrik dan komunikasi telah terputus di beberapa bagian wilayah pegunungan.
Banyak dari mereka adalah peziarah yang melakukan perjalanan menuju Gunung Kailash di Tibet, sementara pendaki asal Nepal sedang menuju Danau Gosaikunda menjelang festival Janai Purnima.
Sejumlah rekaman video menunjukkan kedahsyatan banjir yang menyapu semua yang menghalanginya, termasuk proyek pembangkit listrik tenaga air, jembatan, jalan, dan rumah.
Bangunan-bangunan tertelan air berlumpur dan kendaraan-kendaraan terombang-ambing di antara puing-puing sementara warga melarikan diri tanpa peringatan.
Air banjir melonjak melalui Sungai Bhote Koshi sekitar pukul 9 pagi waktu setempat, menyebabkan kerusakan luas di wilayah Syapru Besi dan Timure di distrik Rasuwa sebelum mengalir ke hilir menuju Sungai Trishuli.
Kecepatan lonjakannya sungguh luar biasa.
Pusat Internasional untuk Pengembangan Gunung Terpadu (ICIMOD) yang berbasis di Kathmandu mengatakan Trishuli naik sebanyak sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit di satu stasiun pemantauan, sementara stasiun pemantauan lainnya mencatat kenaikan tujuh meter dalam periode yang sama.
Pihak berwenang telah memperingatkan masyarakat di sepanjang tepi sungai di Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Gorkha dan Chitwan untuk tetap berada di tempat yang lebih tinggi.
Beberapa stasiun pemantau banjir juga rusak atau tersapu banjir.
Infrastruktur musnah
Setidaknya 19 jembatan yang dapat dilalui kendaraan bermotor dan hampir 40 km jalan hanyut, memutus aliran masyarakat dan melumpuhkan akses ke daerah-daerah yang paling parah terkena dampaknya.
Jaringan listrik Nepal juga terkena dampak besar.
Sebelas proyek pembangkit listrik tenaga air dan satu fasilitas tenaga surya terkena dampaknya, sehingga mengurangi kapasitas pembangkit sebesar 431,1 MW dari jaringan listrik nasional.
Operasi penyelamatan menjadi rumit karena jalan-jalan yang rusak, lumpur yang dalam, air yang tinggi dan medan Himalaya yang sulit.
Nepal telah mengerahkan tentara, polisi dan helikopter, sementara setidaknya 28 petugas polisi termasuk di antara mereka yang masih hilang.
Apa yang memicu bencana tersebut?
Laporan awal menyebutkan adanya gempa bumi, namun Survei Geologi AS kemudian mengatakan bahwa peristiwa seismik tersebut sebenarnya adalah keruntuhan gletser besar-besaran dan aliran puing-puing yang menyebabkan dampak bencana di bagian hilir.
ICIMOD yakin longsoran batu es menghantam Lhende Khola dan mungkin telah memblokir sungai untuk sementara sebelum menimbulkan gelombang dahsyat, meskipun urutan pastinya masih dalam penyelidikan.
Bahayanya mungkin belum berakhir.
ICIMOD telah memperingatkan bahwa penyumbatan masih terjadi di hulu sungai, sehingga menimbulkan ancaman banjir mendadak lainnya, dan perintah evakuasi dikeluarkan di sekitar Pelabuhan Gyirong.














































