“Kerawanan utama di IKN adalah udara. Entah nanti bandara atau pangkalan udara di Nusantara dibangun dengan mekanisme fortifikasi (tambahan) untuk hanggarnya atau menyiapkan pasukan gerak cepatnya,” kata Andi.
Andi mengungkapkan kawasan IKN Nusantara juga berada dalam radius serangan rudal hipersonik milik negara yang memiliki persenjataan canggih, seperti India dan China. Perkembangan persenjataan dunia terbaru, adanya rudal gravitasi yang hanya ditempelkan di satelit, tanpa dibawa pakai pesawat atau yang lainnya.
“Rudal hipersonik ini bagi saya, ancaman utama untuk gelar pertahanan nusantara. Untuk rudal gravitasi, jangankan kita (Indonesia), Amerika Serikat, NATO, maupun China saja belum ada kemampuan untuk menangkal rudal itu,” tutur Andi.
Berikut ini matrik analisa terhadap pemindahan IKN di Nusantara:
Tata Kelola
Visi Kota Dunia untuk Semua untuk mewujudkannya dibutuhkan sistem pertahanan kuat untuk menjaga dan melindungi IKN Nusantara.
Risiko
– Memiliki kerentanan udara tinggi, masuk dalam cakupan rudal balistik negara besar serta mendekati pengelolaan ruang udara negara tetangga.
– Memiliki perbatasan darat yang memudahkan negara tetangga memobilisasi pasukan menyerang Nusantara.
– Kawasan pusat persaingan negara adidaya, mendekati pangkalan militer AS dan Tiongkok, serta persaingan visi arsitektur negara besar.
– Mendekati jalur pelayanan global berkontur laut yang mendukung gelar kekuatan kapal selam.
Krisis
– Serangan militer di Kawasan IKN Nusantara.
– Mendekati potensi lokus perang hegemoni masa depan.
Respons
– Reorganisasi militer untuk mengakomodasi pemindahan IKN.
– Mengubah paradigma pertahanan darat menjadi mobilitas strategis.
– Memodernisasi alutsista, khususnya pertahanan udara.
– Pengembangan sistem keamanan siber. (Ref)


















































