Oxford Union Society Memilih Arwa Hanin Elrayess, Wanita Palestina Pertama Dalam Sejarah

Oxford Union society telah memilih Arwa Hanin Elrayess, seorang wanita Palestina untuk masa jabatan periode trinitas (musim panas) tahun 2026 pada hari Sabtu (20/12) setelah meraih 757 suara preferensi pertama, 150 lebih banyak dari suara yang didapat kandidat runner-up. 

Oxpord Union Society, forum debat mahasiswa independen paling bergengsi di dunia yang berbasis di Universitas Oxford untuk pertama kali dalam sejarah memilih seorang perempuan Palestina sebagai presiden.

Elrayess, mahasiswa yang menekuni bidang filsafat, politik, dan ekonomi, serta merupakan anggota perguruan tinggi konstituen St Edmund’s Hall, mengungkapkan, “Saya bersyukur dan rendah hati atas keyakinan dan kepercayaan yang diberikan para anggota Persatuan kepada saya dan tim saya.”

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang mengesampingkan perbedaan mereka dan bersatu untuk mencapai visi bersama Persatuan ini, yang kita semua kagumi. Saya berharap dapat melayani anggota masyarakat ini di Trinity Term 2026,” dia menambahkan.

Bacaan Lainnya

Elrayess juga aktif terlibat dalam produksi film dokumenter berjudul Heart of a Protest, yang berfokus pada protes di London sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina. 

Film dokumenter tentang gelombang besar protes pro-Palestina yang muncul setelah serangan Israel di Gaza. Film yang dibuat tanpa anggaran, karya lima orang yang peduli dengan apa yang terjadi terhadap rakyat Palestina sejak tahun 1947.

Oxford Union secara teratur menyelenggarakan sesi wawancara dengan narasumber terkenal dan debat kompetitif, serta pidato di depan umum.

Lembaga para mahasiswa ini pertama kali didirikan pada tahun 1823, dan dianggap sebagai salah satu perkumpulan universitas tertua di Inggris. 

Terpilihnya Elrayess terjadi setelah dua jajak pendapat atas mosi tidak percaya baru-baru ini dipicu pada presiden terpilih George Abaraonye dan presiden Moosa Harraj. 

Harraj selamat dari pemungutan suara pada akhir Oktober, beberapa hari setelah penggantinya Abaraonye kehilangan mosi tidak percaya atas komentar yang dia buat tentang kematian Charlie Kirk. 

Abaraonye dilaporkan memposting pesan di Instagram pada saat pembunuhan tokoh konservatif Amerika yang berbunyi: “Charlie Kirk tertembak loool.”

Sejak saat itu, ia mengatakan bahwa pemungutan suara tersebut “dikompromikan”, dan mengatakan kepada BBC bahwa orang-orang yang berkampanye menentangnya memiliki “akses tanpa pengawasan” ke akun email yang mengumpulkan surat suara proxy. 

Menurut Oxford Student, jumlah pemilih yang berpartisipasi mencapai 1.528 orang, jauh lebih tinggi dibandingkan pemilu periode sebelumnya. 

Sebagai informasi, forum Oxpord Union menawarkan kesempatan luar biasa bagi mahasiswa untuk mengasah keterampilan debat, mendengarkan ide-ide dari tokoh-tokoh terkemuka (dari politikus hingga seniman), serta menikmati fasilitas seperti perpustakaan bersejarah dan acara sosial meriah, berbeda dari serikat mahasiswa resmi universitas.

Debat-debat formal yang tercatat dalam laporan menampilkan tokoh-tokoh dunia seperti Winston Churchill, Malcom X, Richard Nixon, Mother Teresa, dan banyak lagi, serta kompetisi debat untuk siswa di seluruh dunia.

Komunitas ini memiliki perpustakaan tua Oxford Union yang indah dengan mural Pre-Raphaelite, Perpustakaan Puisi (Poetry Room), dan ruang baca lainnya.

Namun demikian, forum ini terpisah dari Universitas Oxford dan Serikat Mahasiswa Universitas Oxford (Oxford University Student Union).

Editor: Hasan Munawar, Redaktur Eksekutif INTIP24 News

Pos terkait