Pemahaman kritis terhadap adanya penunggang gelap di balik kerusuhan 25-30 Agustus lalu, tidak boleh menafikan kenyataan dan fakta bahwa rakyat memang sudah muak kepada DPR dan hilang respek terhadap polisi. Hal itu dikarenakan sikap arogan juga kesewenang-wenangan, serta kebijakan yang jauh berpihak kepada rakyat.
Perubahan rezim kepemimpinan dari Joko Widodo ke Prabowo Subianto, yang diharapkan dapat merubah kondisi bangsa, dirasa bak punguk merindukan bulan. Bahkan pada gilirannya memunculkan gelombang kritik baru terhadap kabinet dan kebijakan pemerintah pimpinan presiden Prabowo Subianto. Ini pun menunjukkan adanya jarak yang semakin lebar antara elite politik di lingkaran presiden dengan denyut nadi rakyat.
Demontrasi yang sudah berkembang menjadi amuk massa menjadi indikator betapa rapuhnya basis pertahanan politik Presiden Prabowo Subianto.
Belum genap setahun menjabat, alarm bahaya sudah berbunyi. Prabowo terjepit di antara banyak kepentingan dan berhadapan dengan banyak kelompok.
Prabowo bukan hanya berhadapan dengan kekuatan besar oligarki yang tidak diuntungkan dengan arah kebijakannya, tapi juga berhadapan dengan kekuatan mafia hitam dan kepentingan politik lainnya dalam hal ini para pemain lama, termasuk berhadap-hadapan dengan rakyat yang tidak puas atas kebijakan pemerintah dan DPR saat ini.
Salah satu langkah strategis untuk memulihkan kembali harapan dan kepercayaan rakyat adalah Prabowo diminta hentikan pola mengasuh menteri warisan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan segera menggantinya (Reshuffle Kabinet).
Lebih dari 200 lembaga dan ormas mendesak pencopotan Kapolri dan memutasi Panglima TNI karena dinilai terlalu kental dengan rezim lama.
Sudah waktunya Presiden Prabowo menghentikan pola ‘balas budi’ kepada sang mantan dengan ‘mengasuh’ orang-orangnya. Menteri-menteri yang berpolemik, tidak berpihak dan tidak berempati sedikit pun kepada rakyat, harus dicopot. Kabinet yang berisi figur lemah hanya akan menjadi beban, bukan motor penggerak visi besar Presiden.
Ditambah beban mengasuh anak sang mantan sebagai wakilnya, yang publik tahu siapa dan bagai mana kwalitas dan integritas putra Raja Jawa imitasi alias bodong ini.
Bapak biologisnya memang berhasil selama periode sepuluh tahun kekuasaannya membangun stigma distopia di mana kebenaran bukan lagi sesuatu yg bisa diuji, tapi cukup dengan pernyataan “resmi”, yg gemanya meludahi logika, hingga konstitusi pun bisa diperkosa. Kebenaran yang dipaksakan (post truth).
Gibran Rakabuming bin Joko Widodo adalah anak haram konstitusi di mana proses menjadi wakil presiden telah menabrak konstitusi dengan pelanggaran etik berat oleh pamannya Anwar Usman di Mahkamah Konstitusi dengan memperkosa batas umur sebagai syarat menjadi wakil presiden.
Kini presiden Prabowo Subianto berada pada titik krusial dalam kepemimpinannya. Ia menghadapi pilihan-pilihan sulit dan beresiko menurunkan kekuasaan dan jabatan yang baru sepuluh bulan. Pilihan itu adalah bahwa Ia akan berdamai dengan para oligarki dan mafia hitam untuk meredam gelombang demontrasi yang mengarah kepada makar atau berjuang bersama rakyat menegakan ekonomi dan poltik berdasarkan kemurnian UUD 1945.
Bila situasi makin memburuk dalam beberapa hari ke depan, bisa memunculkan komplikasi dan Prabowo ikut terseret jauh lebih dalam gelombang kemarahan rakyat. Skala kerusuhan semakin membesar, situasi makin tak terkendali, akan semakin banyak aparat dan rakyat jadi korban karena benturan.
Sejak dilantik, Prabowo terlalu percaya diri dengan orang dekat yang terbukti gagal melindungi Prabowo saat ini dari tekanan politik.
Lingkaran dalam Prabowo tampak gamang dan tidak bisa berbuat apa-apa dalam kondisi chaos seperti saat ini. Apa yang bisa dilakukan sekelas Letkol Teddy Indra Wijaya dalam menghadapi turbulensi politik sebesar ini?
Gerbong dalam Prabowo masih terlihat seperti pemain baru dan amatir dalam mengelola kekuasaan. Postur kabinet yang gemoy ternyata tidak berbanding lurus dengan kokohnya political defense Prabowo karena cenderung bertumpu pada gerakan “asal rangkul” di level elite.
Gaya politik akomodatif Prabowo tak membuahkan hasil signifikan dalam memperkuat stabilitas politik, padahal mayoritas parpol sudah dikuasai Prabowo. Dengan kondisi ini, Prabowo bak ditusuk dari depan dan dari bekakang.
Seorang Prabowo yang lahir dan tubuh sebagai prajurit maka ia akan bertindak bak prajurit lainnya. Prajurit seperti peluru, jika dilepas tak mungkin kembali. Prajurit seperti belati yang tak mungkin terhunus untuk membunuh kawannya sendiri. Itulah Prabowo prajurit sejati dan perjalanannya tekah membuktikan apa yang menjadi karakter prajurit sejati.
Hal ini, bisa jadi dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak meginnginkan Indonesia maju dan damai. Kepentingan modal dan bisnis jaringan global selalu menciptakan kondisi lemahnya bangsa ini.
Mereka tahu caranya menaklukan Prabowo Subianto, sebagai seorang prajurit sejati atas pertimbangan nasionalisme bisa saja Prabowo mengalah dan meletakan jabatannya. Atas pertimbangan demi keselamatan anak bangsa dari pertumpahan darah atas pertimbangan usia dan beratnya lawan politikmya.
Jika itu terjadi, maka Indonesia gelap bukan hal yang mustahil, Indonesia bubar tinggal di depan mata. Maka rakyat harus mendorong presiden Prabowo jangan pernah berpikir untuk menyerah. Bangsa ini harus sama-sama berjuang mendukung langkah kebijakan Prabowo sekaligus mendesak membersihkan pengaruh Geng Solo dan para buzzernya.
Buah pikiran KH Ronggosutrisno Tahir / Sepuh INTIP24 News
Catatan: Artikel ini merupakan salah satu kajian opini alternatif yang tidak mengklaim sebagai sebuah kebenaran mutlak.
Media INTIP24 Newi menghargai perbedaan pendapat dan sudut pandang yang berbeda dan opini ini bertujuan untuk memperluas wawasan, membuka ruang diskus.
Jika anda punya pendapat dan sudut pandang yang berbeda kami sangat terbuka untuk menerima masukan dan komentar.
Redaktur Eksekutif: Hasan Munawar













































