Klaten, intip24news.com – Duka mendalam atas wafatnya maestro dalang wanita sepuh kondang Klaten, Nyi Susilah, tidak hanya dirasakan oleh kalangan seniman pedalangan, namun juga meluas hingga ke kalangan insan pers dan organisasi wartawan.
Kepala Divisi Hukum Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Wartawan Online Indonesia (DPW IWOI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Saparjan, SH., LLM, secara resmi menyampaikan ucapan bela sungkawa yang mendalam atas berpulangnya sang maestro wayang kulit tersebut.
Nyi Susilah diketahui menghembuskan nafas terakhirnya pada Sabtu, 4 Oktober 2026, sekitar pukul 16.00 WIB, di kediamannya di Basin, Klaten,Jawa Tengah.
setelah beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit karena faktor usia sepuh.
SAPARJAN SH LLM: NYI SUSILAH ADALAH ASET BUDAYA BANGSA YANG TAK TERGANTIKAN
Dalam keterangan persnya kepada media, Saparjan, SH., LLM yang dikenal sebagai advokat senior dan praktisi hukum di DIY ini menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam.
“Innalillahi Wa Innailaihi Rojiun. Saya, Saparjan, SH., LLM selaku Kepala Divisi Hukum DPW IWOI DIY, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Nyi Susilah, sang maestro dalang sepuh perempuan asal Klaten. Beliau adalah aset budaya bangsa yang tak tergantikan,” ujar Saparjan.
Menurutnya, Nyi Susilah adalah sosok langka. Di era 80-an, ketika dunia pedalangan sangat didominasi laki-laki, beliau mampu tampil gagah dengan gaya khas Klatenan dan suara besar layaknya dalang pria.
“Nyi Susilah adalah bukti bahwa perempuan juga bisa menjadi penjaga kebudayaan Jawa. Dedikasinya selama puluhan tahun dalam melestarikan wayang kulit gaya Klatenan patut menjadi teladan bagi generasi muda. Kepergian beliau adalah kehilangan besar bagi kebudayaan Jawa,” tegas Saparjan yang juga Dosen Hukum tersebut.
Ketua DPW IWOI DIY Supriyono: Semoga Lahir Generasi Penerus Nyi Susilah
Senada dengan itu, Ketua DPW IWOI DIY, Supriyono, juga mengaku sangat merasa kehilangan atas wafatnya dalang wanita legendaris tersebut.
Supriyono yang memimpin organisasi wartawan online terbesar di DIY ini menyebut Nyi Susilah sebagai tokoh seniman yang menginspirasi.
“Saya sangat kehilangan. Nyi Susilah bukan sekedar dalang, tapi beliau adalah tokoh, simbol keteguhan perempuan Jawa. Kami dari DPW IWOI DIY turut berduka cita,” kata Supriyono.
Supriyono berharap, kepergian Nyi Susilah tidak memutus mata rantai regenerasi dalang wanita di Klaten dan Yogyakarta.

“Semoga ke depan lahir generasi penerus dalang wanita yang bisa seperti Nyi Susilah. Yang berani, yang suaranya lantang, yang pakelirannya tetap mempertahankan gaya khas Klatenan. Wayang tidak boleh punah, dan dalang wanita harus terus ada,” harap Supriyono.
Ia juga menginstruksikan kepada seluruh anggota IWOI DIY untuk turut mengawal dan memberitakan berita duka ini sebagai bentuk penghormatan insan pers kepada seniman budaya.
SUGENG TINDAK NYI SUSILAH
Dunia pedalangan Klaten, Solo Raya dan Yogyakarta kini berduka. Kelir telah tertutup, namun cahaya dan suara emas Nyi Susilah akan tetap abadi di hati para pecinta wayang.(Red)











































