Oleh: Hasan Munawar
Untuk lomba karya tulis dalam rangka HPN 2022 PWI Jawa Barat.
INTIP24NEWS | JAKARTA – Hari itu sekitar awal bulan Februari tahun 2020, kami masih bekerja seperti biasa di sebuah proyek pembangunan mall supermarket daerah Kabupaten Tangerang. Tahapan pekerjaan mendekati 70% dan memulai tahapan pengerjaan infrastruktur, saluran air dan halaman parkir depan serta pagar.
Saat itu virus Covid-19 belum familiar dan masih terdengar asing di telinga. Hanya sesekali terdengar kabar berita tentang adanya virus yang mematikan dari telivisi atau media sosial. Bahkan isu virus saat itu justru menjadi gurauan spekulatif di antara para pejabat negeri yang juga diamini oleh sebagian masyarakat.
Contoh misalnya, ada pejabat yang mengatakan bahwa virus Covid-19 tak sampai ke Indonesia, karena perizinannya berbelit-berbelit.
Adalagi gurauan dari salah seorang pejabat tinggi yang menyebut susu kuda liar bisa menangkal virus Corona.
Semua komentar dan statemen itu pada intinya menggambarkan kalau virus Corona tidak akan masuk Indonesia.
Dalam pada itu, salah seorang pekerja dari tim kami (sebut saja Satria, 21 tahun) melakukan perjalanan darat ke Sumatera Selatan dengan tujuan menjemput kekasihnya (sebut saja Gadis, 17 tahun) yang akan bekerja di bilangan Jakarta Timur. Ketika itu belum ada kekhawatiran akan terjadi kehebohan terkait virus Covid-19, maka perjalanan pun aman-aman saja dan lancar hingga seminggu berikutnya Satria sudah kembali ke lokasi pekerjaannya.
Cerita awal Corona masuk Indonesia dimulai dengan dua kasus Corona di Depok, Jawa Barat. Menteri Kesehatan RI saat itu, Terawan Agus Putranto menjelaskan kasus ini bermula ketika satu di antara dua WNI kontak dekat dengan WN Jepang yang ternyata terbukti positif Covid-19 saat melakukan pemeriksaan di Malaysia.
Pada 16 Februari 2020, setelah WN Jepang kembali ke Malaysia, rekannya seorang WNI merasa tidak nyaman dengan kondisi mengalami batuk sehingga berobat jalan.
Akhirnya dua pasien dinyatakan positif pada 1 Maret. Presiden Joko Widodo mengumumkan dua kasus ini keesokan harinya.
Namun demikian, gelombang pandemi yang belakangan kemudian menghebohkan dunia ini masih berusaha disangkal dan dibuat gurauan oleh beberapa pejabat. Hal itu mungkin dilakukan agar tidak menimbulkan kepanikan di masyarakat.
Belum ada pembatasan kegiatan masyarakat yang ditujukan untuk mengantisipasi penyebaran virus tersebut sampai pada sekitar akhir bulan Maret.
Pertama kalinya Indonesia mencatatkan peningkatan drastis kasus Covid-19, dari tujuh kasus positif di tanggal 8 Maret hingga 13 orang di hari itu. Esokan harinya, WHO mendorong Indonesia menetapkan status darurat nasional Covid-19.
Dorongan itu direspons dengan penetapan status bencana nasional non-alam untuk Covid-19 pada 14 Maret 2020.
Tiga hari setelah itu, bertepatan ketika Prancis me-lockdown total seluruh negara, Indonesia menetapkan masa darurat bencana wabah Covid-19 hanya dalam kurun waktu sampai 29 Mei 2020.
Sementara itu, Satria yang bermodalkan gaji pekerja kasar mingguan itu telah nekat menjemput Gadis kekasihnya demi sebuah harapan pekerjaan yang ditawarkan temannya lewat percakapan di medsos. Namun ternyata pekerjaan itu tidak sesuai dengan tawaran semula sehingga Gadis pun tidak melanjutkan pekerjaan itu.
Masalah pun kemudian datang beruntun kepada mereka. Satria tidak bisa seketika itu mengantarkan Gadis pulang kembali ke kampung halamannya lantaran pekerja proyek itu harus bekerja untuk seminggu atau dua minggu ke depan agar mendapatkan ongkos mereka berdua kembali ke Sumatera Selatan.
Akhirnya dengan sangat terpaksa dan dibalut rasa kebingungan sang Gadis dititipkan ke kerabatnya di daerah Cibitung, Bekasi sambil menunggu Satria mengumpulkan biaya ongkos perjalanan balik ke rumah orang tua si Gadis.
Hampir sebulan Gadis dititipkan dari satu kerabat ke kerabat lainnya untuk menghindari pertanyaan pihak RT setempat, apalagi kurun waktu bulan Maret tersebut mulai ada pengetatan dan pembatasan pergerakan warga dan masyarakat.
Saat itu status virus Corona sudah menjadi pandemi di Indonesia. Kota kota besar mulai menerapkan kebijakan sepihak demi melindungi warganya. Kecemasan dan kebingungan mulai menghantui sebagian besar masyarakat terutama di kota-kota besar padat penduduk.
Perjalanan ke luar kota pun mulai dibatasi dan penyebarangan ke Sumatera mulai ketat untuk selain dari pada barang sembako dan barang kebutuhan vital lainnya.
Pada bulan Maret ini, beberapa kepala daerah di pulau Jawa berinisiatif untuk menghentikan kegiatan belajar mengajar di sekolah selama setidaknya dua pekan, sementara beberapa universitas terkemuka menerapkan metode pembelajaran jarak jauh untuk membatasi kontak langsung menyusul wabah virus corona yang telah teridentifikasi di dalam negeri.
Situasi jalan-jalan yang biasanya dipadati warga yang melakukan kegiatan keseharian mulai berubah. Jam padat lalu lintas mulai longgar dan lengang. Begitu pula perkantoran mulai menerapkan WFH, situasi di lokasi proyek pun mulai berkurang meski masih ada yang bekerja karena saat itu dalam tahapan finishing dan perapihan.
Rencana kepulangan Gadis sirna, padahal orang tua di kampung sudah meminta berkali-kali untuk kembali. Kini masalah lain menghampiri kedua sejoli itu. Mereka dihadapkan kepada buah simalakama, jika memaksakan pulang maka resikonya berhadapan dengan petugas, mulai dari terminal bis hingga pemeriksaan di pelabuhan penyebrangan yang bisa saja berisiko gagal di tengah jalan.
Ketika masuk bulan April 2020, pekerjaan proyek mall supermarket praktis dinyatakan rampung dan tidak ada lagi pekerjaan. Satria pun mulai mencari pekerjaan baru untuk menanggung kehidupan mereka berdua.
Yang menyedihkan dan membuat hati terenyuh adalah bahwa Satria dan Gadis hidup terpisah, keduanya belum menikah sehingga harus tinggal terpisah dengan jarak yang cukup jauh. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan hubungan mereka saat itu ditengah kehebohan awal pandemi Covid-19.
Memasuki bulan puasa pertengahan April 2020 pemerintah mulai mengetatkan perjalanan antar kota dalam rangka antisipasi arus mudik menjelang lebaran. Hal tersebut semakin memudarkan rencana kepulangan Gadis hingga harus menunggu akhir musim mudik lebaran.
Sementara itu, semua kebiasaan dan gaya hidup masyarakat dituntut harus menyesuaikan dengan kondisi pandemi. Pengetatan dan pembatasan lewat PPKM mulai terus diterapkan di semua aspek kehidupan. Masyarakat dihimbau, diminta hingga diwajibkan melaksanakan 3 M dan bahkan 5 M yaitu, mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas.
Hal itu praktis membuat masyarakat lebih banyak diam di rumah dan menghabiskan waktu dengan gadgetnya. Semua kebutuhan dipenuhi dengan menggunakan jasa pengantar online.
Di masa sulit ini ekonomi digital justru mendapat berkah, dan masyarakat diajarkan oleh keadaan untuk memulai kebiasaan baru (new normal). Dari mulai murid sekolah belajar lewat internet, para karyawan bekerja di rumah (WFH) hingga berupaya membentuk ketahanan lingkungan di masjng-masing wilayah terkecil di kampung atau desanya.
Ada juga yang menerapkan lockdown lokal untuk lingkungan perumahan atau cluster. Dengan swadaya warga setempat, mereka menerapkan protokol kesehatan secara ketat mengikuti aturan pemerintah.
Saat itu belum ada vaksinasi, pencegahan dilakukan dengan pembatasan kegiatan. Istilah PPKM mulai terbiasa didengar masyarakat. PPKM diberlakukan di segala aspek kehidupan masyarakat termasuk dalam hal ibadah.
Masjid dan surau serta tempat ibadah agama lain mulai menerapkan prokes secara ketat. Bahkan sebagian besar masjid meniadakan sholat Jumat.
Akhirnya Satria dan Gadis menjalani keadaan ini sampai memasuki bulan puasa dan hari raya Idul fitri. Keduanya terpisah oleh jarak dan pandemi, ya pandemi telah membelenggu gerak dan hubungan keduanya dengan keluarganya masing-masing.
Baru setelah 5 hari lepas dari Idul Fitri ada kesempatan dibuka perjalan ke Sumatera. Satria pun tak menyia-nyiakan peluang itu untuk mengantarkan sang Gadis ke orang tuanya.
Satria mengurus surat kesehatan keduanya bebas Covid-19 dari klinik dan membeli tiket bis yang harganya melambung 2 kali lipat dari biasanya.
Alhamdulillah, akhirnya mereka berdua bisa sampai di kampung halaman dan menyerahkan Gadis ke keluarganya.
Pandemi Covid-19 kini sudah berjalan hampir 2 tahun lebih. Namun belum juga berakhir, bahkan bencana ini masih terus datang secara bergelombang.
Ada beberapa varian virus berkembang dan bermutasi. Setelah varian delta kini telah menyebar pula varian omicron dan entah varian apalagi nanti.
Yang jelas, masyarakat tidak bisa kembali kepada kebiasaan lama sebelum datangnya pandemi Covid-19. Kebiasaan dan gaya hidup baru mau tidak mau, suka tidak suka harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Meskipun ada penurunan skala penyebaran, namun demi antisipasi segala kemungkinan maka protokol kesehatan nampaknya akan terus diterapkan dalam gaya hidup masyarakat.
Hingga tulisan ini dipublikasikan, kondisi pandemi masih sangat mengerikan dengan informasi adanya varian terbaru. Yaitu mutasi gabungan antara delta dan omicron. Meski sudah menjalani dua kali vaksinasi dosis satu dan dosis dua, belum ada jaminan kebal terhadap varian baru tersebut.
Kisah Satria dan Gadisnya akhirnya sampai ke pelaminan dan kini keduanya memiliki seorang putri.
Putri yang lahir di tengah masa-masa sulit pandemi. Di mana dunia terkungkung pandemi Covid-19. Menginfeksi lebih dari 200 juta orang di dunia di mana sekitar 4,25 juta orang meninggal dunia dengan cara yang tidak biasa.
Semoga masa-masa sulit ini segera berakhir, kita dapat bertemu kembali ke keadaan normal meski dengan kebiasaan dan gaya hidup yang new normal.
Aamiin.















































