BANDA ACEH Senin 5 Januari,
Di saat banyak orang memilih menunggu laporan di balik meja, sosok wakil rakyat asal Aceh ini justru mengambil jalan sebaliknya. Ia turun langsung ke lapangan, menembus lumpur, air bah, dan wilayah-wilayah terisolasi.
Hampir seluruh titik terdampak banjir di Aceh ia datangi satu per satu. Bukan sehari, bukan dua hari—melainkan berhari-hari tanpa jeda.
Sejak awal surutnya banjir, langkahnya nyaris tak pernah berhenti. Pagi 29 November belum sepenuhnya terang ketika kendaraan yang ditumpangi Anggota DPR RI asal Aceh, Muslim Ayub, memasuki kawasan terdampak banjir di Aceh Barat dan Nagan Raya.
Lumpur setinggi betis masih menyelimuti halaman rumah warga. Bau air bercampur tanah belum hilang.
Di beberapa gampong, listrik padam total. tidur dalam gelap, dan menunggu bantuan yang datang tidak menentu. Ia menyaksikan langsung rumah-rumah warga yang terendam dan akses jalan yang terputus.
Sehari berselang, ia bergerak tiba di Trumon, Aceh Selatan. Jalan menuju lokasi berubah menjadi lintasan lumpur licin. Beberapa titik hanya bisa dilewati kendaraan tertentu, selebihnya harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Di sini, banjir bukan sekadar merendam rumah, tetapi memutus jalur hidup warga. Listrik belum menyala, jaringan komunikasi terputus, dan logistik harus dipikul secara manual.
pada 2 Desember langkahnya berlanjut ke Aceh Singkil. Perkampungan tampak seperti pulau-pulau kecil yang terpisah air. Anak-anak bermain di genangan, sementara orang tua berjibaku menyelamatkan sisa harta benda.
“Sudah berminggu-minggu begini, Pak,” keluh seorang warga. Sebagian wilayah masih gelap gulita saat malam tiba.
Empat Desember menjadi hari berat di Kecamatan Ketambe, Aceh Tenggara. Di wilayah pegunungan ini, banjir bandang menyapu dua desa hingga nyaris tak berbekas. Jalan terputus, tanah longsor menutup akses, dan alat berat belum bisa masuk.
Keesokan harinya, 5 Desember, Muslim Ayub menemui 23 warga yang mengungsi di Rumah Bundar, Desa Mbarung, Kecamatan Babussalam.
Mereka terisolasi, hidup dengan penerangan seadanya, dan bergantung pada bantuan yang datang tak menentu.
Pada 5 Desember, ia kembali menyisir Aceh Tenggara dan menemui 23 warga yang terpaksa mengungsi di Rumah Bundar, Desa Mbarung, Kecamatan Babussalam, akibat wilayah mereka terisolasi total.

















































