Hari-hari berikutnya, bencana belum memberi jeda. Pada 24 Desember, ia menembus medan ekstrem menuju Desa Uyem Beriring dan Desa Kampung Pasir di Gayo Lues.
Perjalanan memakan waktu berjam-jam melewati jalan tanah yang licin dan jurang di sisi kanan-kiri. Listrik belum pulih meski bencana sudah hampir sebulan berlalu.
Saat malam, desa-desa itu tenggelam dalam gelap, hanya diterangi lampu minyak., pada 24 Desember ia kembali menembus medan berat menuju Desa Uyem Beriring dan Desa Kampung Pasir, Kabupaten Gayo Lues—dua desa yang terisolasi dan sulit dijangkau.
Empat hari kemudian, 28 Desember, ia bergerak ke Aceh Tamiang untuk menyalurkan bantuan kepada warga di Desa Bandar Khalifah, Kecamatan Tamiang Hulu.
Empat hari kemudian, 28 Desember, ia berada di Aceh Tamiang. Di Desa Bandar Khalifah, Kecamatan Tamiang Hulu, warga menyambut bantuan dengan wajah lelah namun penuh harap. Banjir memang surut, tetapi lumpur masih mengendap di rumah, sawah rusak, dan aktivitas ekonomi lumpuh.
Perjalanan itu berlanjut ke Langkahan, Aceh Utara—Desa Rumoh Rayeuk, Gampong Geudumbak—wilayah yang sempat terisolasi karena akses jalan rusak parah.
Listrik belum sepenuhnya normal. Dari sana, ia bergerak ke Menasah Mancang, Gampong Dayah Husein, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya. Di tempat ini, warga masih berjuang membersihkan lumpur dan bertahan dengan keterbatasan air bersih.
Langkah kemanusiaan itu tidak berhenti di sana. Ia juga hadir di Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, tepatnya di Desa Rumoh Rayeuk, Gampong Geudumbak.
Perjalanan kemudian berlanjut ke Menasah Mancang, Gampong Dayah Husein, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya—wilayah yang turut terdampak dan membutuhkan penanganan cepat.
Selama hampir 30 hari di lapangan, Muslim Ayub menyaksikan sendiri bagaimana bencana tak hanya menghancurkan rumah, tetapi juga memutus harapan.
Sekolah lumpuh, fasilitas umum rusak, dan ribuan warga harus bertahan di pengungsian dengan anak-anak dan orang tua, di tengah dingin, gelap, dan ketidakpastian.
“Sebulan lebih, masih ada desa yang listriknya mati, aksesnya sangat sulit, dan warganya hidup dalam keterbatasan,” ujarnya.
Karena itulah, ia memilih hadir langsung—menyalurkan bantuan darurat, menyapa warga satu per satu, dan memastikan mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian.
Baginya, bencana ini bukan sekadar genangan air. Ini adalah jeritan kemanusiaan yang menuntut kehadiran nyata negara.
















































