Awal Tahun yang Menguras Energi Pramono | Oleh: Yakub F. Ismail

Di tengah situasi tersebut, perhatian dan harapan tinggi diletakkan di pundak sang pemimpin daerah.

Dengan demikian, mampukah Pramono Anung membaca situasi, bersikap antisipatif, dan punya resep solutif dalam mengatasi tantangan tersebut? Di sinilah letak ujian yang bakal menentukan seberapa tangguh dan dapat diandalkan dari seorang Pramono untuk memimpin ibu kota.

Menuju 1 Tahun Kepemimpinan

Menyongsong satu tahun pengabdian, Pramono Anung masih tampil dengan gaya yang khasnya yang penuh ketenangan dan antisipatif.

Bacaan Lainnya

Tidak banyak yang berbeda dari karakter kepemimpinan seorang Pramono sejak awal menjabat, hingga dihantam berbagai ujian selama menakhodai ibu kota.

Apa yang konsisten dari seorang Pramono sejauh ini adalah komitmennya dalam menjaga kesinambungan kebijakan yang telah direncanakan matang sebelumnya.

Pramono, seperti telah jamak diketahui, tidak ingin terburu-buru mengubah sikap dan mindset dalam menghadapi persoalan yang datang secara tiba-tiba ataupun yang sifatnya kronis.

Ia selalu menunjukkan cara kerjanya yang rapi, tenang, terkoordinasi, telaten, dan penuh kehati-hatian kala mengurai suatu problematika yang dihadapi. Setidaknya, itulah yang dibuktikan di tahun pertama kepemimpinannya ini.

Karakter kepemimpinan Pramono juga tercermin dari sejumlah kebijakan yang lahir dari tangan dinginnya.

Sebagai contoh, di masa kepemimpinannya, Pramono mendorong penguatan integrasi antarmoda sebagai fondasi mobilitas perkotaan.

Moda transportasi publik seperti MRT, LRT, TransJakarta, dan transportasi pengumpan diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem yang saling terkoneksi dan terintegrasi.

Tidak berhenti di sana, sejumlah proyek besar yang sempat mangkrak dan merusak estetika kota seperti proyek monorel yang sempat terhenti selama 22 tahun kini mulai dibereskan.

Sebelum Pramono, tiang-tiang monorel mangkrak yang terpancang di sepanjang jalan raya HR Rasuna Said itu dibiarkan berdiri membisu tanpa sentuhan apapun.

Bukan karena ia berdiri kokoh sebagai simbol peradaban kota, melainkan hamparan besi tua tengah kota yang mengganggu itu sengaja dibiarkan begitu, karena tidak ada yang tertarik untuk menatanya kembali.

Baru di era Pramono, proyek gagal itu mendapat perhatian dan mulai ditata ulang. Tujuannya sederhana, sebelum memulai langkah besar, perlu membereskan hambatan kecil yang menghalang di depan mata.

Sementara, dalam konteks penanganan banjir, Pramono juga menunjukkan keseriusannya melalui penguatan strategi kombinasi antara solusi struktural dan nonstruktural.

Kebijakan normalisasi sungai, perbaikan drainase lingkungan, pengerukan waduk dan sungai, sampai dengan penguatan sistem peringatan dini menjadi agenda krusial yang selalu ditekankan di berbagai kesempatan.

Tidak berhenti di situ, Pramono juga mendorong kerja sama lintas wilayah sebagai prasyarat utama menyelesaikan masalah banjir di Jakarta.





Pos terkait