BEKASI — Persoalan sampah menjadi perhatian mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Pelita Bangsa (UPB) Cikarang yang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Banjarsari, Kecamatan Sukatani, Kabupaten Bekasi.
Sebanyak 26 mahasiswa KKN dari Fakultas Hukum dan fakultas lainnya merealisasikan salah satu program kerja di bidang lingkungan dengan membuat serta menyerahkan alat dan bahan pembuatan incinerator sampah kepada Pemerintah Desa Banjarsari. Kegiatan KKN tersebut berlangsung selama 30 hari, mulai 20 Juli hingga 22 Agustus 2026.
Ketua KKN, Ade Muhamad Ilham, mengatakan gagasan pembuatan incinerator bermula ketika mahasiswa melakukan survei terhadap kondisi lingkungan Desa Banjarsari pada awal pelaksanaan KKN. Dari hasil pengamatan tersebut, persoalan sampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang mendapat perhatian mahasiswa.
“Ide gagasan ini muncul bermula dari awal pertama kita survei keadaan yang ada di Desa Banjarsari dan masalah paling pertama yang ada di sini yaitu permasalahan tentang sampah,” ujar Ade.
Menurutnya, salah satu mahasiswa KKN bernama Adhi Mulia kemudian mencetuskan gagasan untuk membuat incinerator sebagai bagian dari solusi terhadap persoalan sampah yang ditemukan di lingkungan desa.
“Adhi Mulia mencetuskan ide gagasan untuk membuat incinerator dan memulai dengan membuat desain di aplikasi Blender. Setelah terbentuk, kemudian direalisasikan pada tanggal 16 Agustus 2026 bersama dengan seluruh mahasiswa KKN Banjarsari,” katanya.
Ade menambahkan, program tersebut merupakan salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu pemerintah desa menangani persoalan lingkungan. Setelah proses pembuatan selesai, alat dan bahan incinerator kemudian diserahkan kepada Pemerintah Desa Banjarsari agar dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.
“Kami sudah merealisasikan program kerja KKN dalam penanganan masalah lingkungan hidup, terutama masalah sampah yang mencemari lingkungan sekitar. Hari ini kami menyerahkan alat dan bahan incinerator sampah kepada Pemerintah Desa Banjarsari agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya,” tutur Ade.
Sementara itu, Pj Kepala Desa Banjarsari, Juandi Jaya, S.IP., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Universitas Pelita Bangsa Cikarang dan para mahasiswa KKN atas kontribusi yang diberikan kepada desa.
“Alhamdulillah, terima kasih banyak kepada Universitas Pelita Bangsa Cikarang yang memberikan alat ini. Semoga bisa bermanfaat untuk menangani permasalahan sampah yang ada di wilayah lingkungan desa kami,” ujar Juandi.
Dalam proses pembuatannya, mahasiswa menggunakan sejumlah peralatan, di antaranya aplikasi Blender untuk mendesain incinerator, gergaji untuk memotong bata hebel, sekop semen untuk mengaplikasikan perekat, pacul untuk mencampurkan semen dengan pasir, serta gerinda untuk memotong besi.
Sedangkan material yang digunakan meliputi bata hebel, semen perekat hebel, semen bangunan, pasir, semen aci putih, dan besi.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan KKN semata, tetapi dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Banjarsari. Mahasiswa juga berharap inovasi yang lahir dari hasil survei lapangan tersebut dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan dan pengelolaan sampah di lingkungan desa.
Meski demikian, pemanfaatan incinerator nantinya tetap perlu memperhatikan aspek keselamatan, pengendalian emisi, serta ketentuan pengelolaan lingkungan yang berlaku agar penanganan sampah tidak justru menimbulkan persoalan lingkungan baru. (Red)













































