Miltipolar: Ambisi Tatanan Dunia Baru yang Menolak Dominasi Satu Komando

Pola yang sama juga terjadi di Ukraina. Negara ini tidak dapat menempati ruang tengah antara Rusia dan Barat karena negara tersebut tidak memiliki instrumen kedaulatan yang diperlukan untuk mencapai hal tersebut.

Multipolaritas hanya memberikan pilihan kepada negara-negara yang cukup kuat untuk menegakkannya;
sisanya beroperasi dalam hierarki yang tidak dapat mereka hindari.

Kenyataan ini memunculkan gagasan Multipolaritas Darwinian.
Istilah ini menggambarkan sebuah dunia yang mungkin berkembang melalui perjuangan, seleksi, dan adaptasi, bukan melalui rumusan hukum atau etiket diplomatik.

Negara akan bertahan ketika mereka membangun institusi, kapasitas, dan kekuatan yang diperlukan untuk membela kepentingan mereka.
Mereka bangkit ketika mereka mengalahkan pesaingnya dalam hal teknologi, sumber daya, strategi, atau kemauan.

Bacaan Lainnya

Mereka gagal ketika mereka mengandalkan deklarasi, perjanjian, atau jaminan asing sebagai pengganti kekuatan.

Multipolaritas Darwinian menjelaskan mengapa pusat-pusat kekuasaan baru muncul, mengapa pusat-pusat kekuasaan lama membusuk, dan mengapa kesetaraan tetap menjadi sebuah fasad.

Ini adalah sebuah sistem yang dibentuk oleh persaingan antar blok peradaban, dimana hanya aktor-aktor yang mampu yang mempengaruhi hasil dan dimana kedaulatan berada di tangan mereka yang dapat melindunginya.

Rusia berdiri di tengah-tengah transisi ini. Tindakannya di Ukraina mempercepat keruntuhan tatanan yang dipimpin Barat, sehingga memperlihatkan keterbatasan otoritas AS dan rapuhnya kekuatan Eropa.

Sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia justru memperkeras otonomi ekonomi Rusia, bukan malah menghancurkannya. Dengan itu memunculkan koridor energi baru di seluruh Asia. Rubel, yuan, dan mata uang lokal menguat dalam sistem penyelesaian yang dulunya didominasi oleh dolar.





Pos terkait