INTIP24NEWS.COM – Para pemimpin gereja Yerusalem pada hari Rabu mengutuk keputusan Israel yang “berat-tangan” (enggan repot) untuk membatasi jumlah orang yang diizinkan mengunjungi Gereja Makam Suci di Yerusalem Timur yang diduduki untuk perayaan Paskah akhir pekan ini.
Polisi Israel mengatakan pembatasan baru akan memangkas jumlah jamaah hingga 80 persen untuk menjaga keamanan.
Namun, para pemimpin gereja mencap keputusan itu sebagai penghinaan terhadap hak dan kebebasan komunitas Kristen setempat, dan bersumpah untuk tidak mematuhinya.
“Kami akan terus menegakkan adat istiadat, dan upacara akan diadakan sebagai kelaziman selama dua ribu tahun dan semua yang ingin beribadah bersama kami diundang untuk hadir,” ujar Patriarkat Ortodoks Yunani, Kustodi Tanah Suci, dan Patriarkat Armenia mengatakan dalam suatu pernyataan bersama.
Pembatasan baru berarti bahwa hanya 1.800 orang yang diizinkan masuk ke dalam Gereja Makam Suci, dengan 1.200 lainnya di luar, bukan 10.000 jemaah yang biasanya datang selama Paskah.
Dijadwalkan upacara api suci tahunan, perayaan Paskah terpenting bagi Gereja Ortodoks Timur, akan berlangsung di Gereja Makam Suci pada hari Sabtu.
Pembatasan Israel pada jamaah yang datang ke Makam Suci terjadi setelah Israel membatalkan ratusan izin bagi umat Kristen Palestina di Gaza yang berharap untuk mengunjungi Yerusalem untuk Paskah, kata Gereja Ortodoks Saint Porphyrios.
Lebih dari 700 izin dilaporkan diberikan untuk liburan Paskah sebelum pembatalan.
Dilansir intip24news.com dari Midle East Eye, Komisi Islam-Kristen untuk Yerusalem mengutuk pembatalan izin yang tiba-tiba bagi orang Kristen Palestina dari Gaza dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kebebasan mereka untuk beribadah.
“Komisi menambahkan bahwa pembatasan kebebasan beribadah bagi warga Kristen dan Muslim yang terus berlanjut dan penargetan yang terus-menerus terhadap tempat-tempat suci Islam dan Kristen merupakan pelanggaran serius terhadap aturan hukum humaniter internasional,” kata komisi tersebut.
Pengekangan Israel terjadi ketika serangan terhadap situs-situs Kristen di Israel dan wilayah pendudukan menjadi semakin sering dalam beberapa tahun terakhir.
Dua orang Israel memasuki
Gereja Getsemani sebulan kemudian dan secara fisik menyerang seorang uskup dan dua imam selama kebaktian.
Pada Desember 2021, para patriark (pemimoin adat, red) dan kepala gereja di Yerusalem memperingatkan bahwa “Umat Kristen telah menjadi sasaran serangan yang sering dan berkelanjutan oleh kelompok radikal pinggiran”, mengacu pada aktivis sayap kanan Israel.





















































