Mengapa sebagian besar pemilih tetap memilih Erdogan kendati dilanda krisis ekonomi, serta respons lambat pemerintah terhadap bencana gempa pada bulan Februari yang menewaskan sedikitnya 50.000 orang?
“Saya rasa dia adalah politisi Teflon [terhebat],” kata Profesor Soli Ozel, dosen hubungan internasional di Universitas Kadir Has Istanbul. “Dia juga punya daya tarik bagi masyarakat umum. Anda tidak bisa menyangkalnya. Dia memancarkan kekuatan. Itu satu hal yang tidak dilakukan Kilicdaroglu.”
Bahkan Erdogan tahu persis cara memikat massa.
Pada sebuah pertemuan sopir taksi di Istanbul, mereka tergila-gila kepadanya. Dia mengendalikan kerumunan bagaikan seorang konduktor orkestra. Mereka bersorak dan bertepuk tangan – dan mencemooh oposisi – hanya dengan isyarat darinya. Tempat itu adalah pusat konvensi tepi laut di Istanbul, dibangun ketika ia menjabat sebagai wali kota.
Pawai mencapai puncaknya ketika sang presiden menyampaikan salam perpisahannya: “Satu Bangsa, Satu Bendera, Satu Tanah Air, Satu Negara.” Saat itu, banyak pengemudi yang sudah tua berdiri, meninju udara atau mengangkat satu tangan untuk memberi hormat.
Ayse Ozdogan, seorang perempuan berpakaian konservatif dan mengenakan jilbab, datang lebih awal bersama suaminya yang bekerja sebagai sopir taksi untuk mendengar pidato sang pemimpin. Sebuah kruk bersandar di kursi kosong sebelah tempat dia duduk. Perempuan itu berjalan saja sulit, tetapi dia memaksakan diri untuk datang.
Pesan nasionalis sang presiden memikat banyak orang di kerumunan, termasuk Kadir Kavlioglu, pria berusia 58 tahun yang sudah 40 tahun menjadi sopir minibus. “Karena kami mencintai tanah air dan bangsa kami, kami berjalan dengan mantap di belakang presiden.”
“Kami bersamanya di setiap langkah,” katanya. “Mau harga kentang dan bawang naik atau turun. Presidenku yang tercinta adalah harapan kami.”
Sementara Kilicdaroglu, yang didukung oleh aliansi oposisi beranggotakan enam partai, dahulu memancarkan harapan, serta menjanjikan kebebasan dan demokrasi.
Namun setelah kekecewaan pada putaran pertama, dia berbelok tajam ke kanan. Sekarang citranya tidak lagi seorang politisi yang perhatian melainkan seorang nasionalis garis keras.
“Saya mengumumkan di sini bahwa saya akan mengirim semua pengungsi kembali ke rumah mereka begitu saya terpilih sebagai Presiden, titik,” kata Kilicdaroglu pada pawai pemilihan.
Itu termasuk lebih dari tiga juta warga Suriah yang melarikan diri dari perang di negara asal mereka.
















































