Pada tanggal 30 Juni 2015, sebuah pesawat Lockheed C-130 Hercules milik TNI Angkatan Udara jatuh dua menit setelah lepas landas dari Pangkalan Udara Soewondo, Medan, Sumatera Utara. Pesawat yang berusia sekitar 51 tahun ini membawa 12 awak dan 110 penumpang, mayoritas adalah personel militer dan keluarga mereka yang sedang melakukan rotasi tugas ke berbagai wilayah di Indonesia. Semua 122 orang di dalam pesawat meninggal dunia, ditambah 22 korban jiwa di darat akibat tertimpa puing-puing pesawat dan bangunan yang hancur, sehingga total korban tewas mencapai 143 jiwa.
Pesawat lepas landas dari Lanud Soewondo pada pukul 12:08 WIB menuju Lanud Tanjung Pinang setelah sebelumnya melakukan penerbangan dari beberapa pangkalan udara seperti Malang, Jakarta, dan Pekanbaru. Sekitar dua menit setelah lepas landas, pilot melaporkan adanya gangguan teknis dan meminta izin untuk kembali ke pangkalan. Namun, pesawat tiba-tiba berbelok tajam ke kanan, menabrak menara radio, lalu jatuh dan meledak di kawasan padat penduduk di Jalan Jamin Ginting, Medan, hanya sekitar 5 kilometer dari pangkalan. Evakuasi korban berjalan sulit karena banyak korban tertimbun reruntuhan.
Penerbangan Pesawat ini menjalankan misi Penerbangan Angkutan Udara Militer (PAUM) yang merupakan operasi rutin pengangkutan personel TNI dan keluarganya yang pindah tugas. Rute penerbangan hari itu adalah dari Lanud Halim Perdanakusuma Jakarta ke Pekanbaru, Medan, dan selanjutnya menuju Tanjung Pinang, Ranai, Pontianak, dan Yogyakarta.
Pesawat Hercules dengan registrasi A-1310 ini diproduksi pada tahun 1964, sehingga pada saat kecelakaan usianya sudah mencapai 51 tahun. Meskipun demikian, pejabat TNI AU menegaskan pesawat dalam kondisi layak terbang dan usia bukan faktor utama kecelakaan.
Berikut adalah nama kru pesawat yang meninggal dunia (12 orang) di kutip dari https://nasional.okezone.com/read/2015/06/30/337/1173791/ini-identitas-kru-pesawat-hercules-yang-jatuh-di-medan ;
- Kapten (Penerbang) Sandy Permana (Pilot)
- Lettu (Penerbang) Pandu Setiawan (Kopilot I)
- Letda Penerbang Dian Sukma (Kopilot II)
- Kapten (Navigator) Riri Setiawan (Navigasi)
- Serma (Teknik) Bambang H (Teknisi)
- Peltu (Teknik) Ibnu Kohar (Teknisi)
- Pelda (Teknik) Andik S. (Teknisi)
- Peltu (Teknik) Ngateman (Teknisi)
- Peltu Teknik) Yahya Komnari (Teknisi)
- Pelda (Teknik) Agus P. (Teknisi)
- Prada (Teknik) Alfian (Teknisi)
- Pelda (Teknik) Parijo (Teknisi)
Untuk penumpang, terdapat 110 personel militer beserta keluarga mereka yang berasal dari berbagai pangkalan udara, namun daftar lengkap nama penumpang sengaja pewarta tidak dipublikasikan secara menyeluruh demi menghormati privasi keluarga korban. Adapun saat kejadian korban tewas di darat berjumlah 22 orang, terdiri dari warga sipil yang tinggal di sekitar lokasi jatuhnya pesawat Hercules A-1310.
Pemerhati penerbangan, Adhi Karnanta Hidayat, menyatakan, Tragedi 10 tahun yang lalu ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi institusi terkait, terutama dalam aspek perawatan teknis dan pelatihan awak pesawat. Keselamatan penerbangan harus menjadi prioritas utama demi menghindari kehilangan nyawa yang tidak perlu di masa depan. Diharapkan TNI AU dapat terus meningkatkan keselamatan, perawatan pesawat, serta pelatihan awak pesawat agar dapat menjalankan tugas dengan optimal dan aman.
Kami mengenang dengan penuh duka cita yang sangat mendalam atas gugurnya 143 jiwa dalam tragedi ini, semoga para korban mendapatkan tempat terbaik di sisi-Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Tragedi A-1310 ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan penerbangan, terutama untuk armada militer yang mengemban tugas negara ujar Adhi Karnanta Hidayat.
Semoga tragedi ini menjadi pelajaran berharga agar tidak terulang kembali di masa depan dan TNI Angkatan Udara dapat terus meningkatkan profesionalisme serta keselamatan penerbangannya demi melindungi jiwa prajurit dan masyarakat sipil.
Yogyakarta, Senin (30/06/2025)
Pewarta : Adhi Karnanta Hidayat













































