Aura Farming Pacu Jalur: Buka Peluang Promosi Budaya dan Wisata Riau hingga Mancanegara

Riau, intip24news.com – Viralnya video seorang anak yang menari lincah pada atas perahu saat ajang tradisi Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, menarik perhatian luas di media sosial. Fenomena ini dinilai sebagai momen penting untuk memperkenalkan budaya lokal ke panggung internasional.

Sosok penari cilik di pacu jalur Kuantan Singingi, Riau, itu sendiri bernama Rayyan Arkan Dikha. Aksi bocah 11 tahun menari-nari di atas jalur mendadak viral hingga kini dijuluki Aura Farming.
Dikha mengaku spontan saat menari di atas jalur. Dia lantas terkejut dan senang saat aksinya itu viral dan mendapat sambutan hangat dari para warganet di seluruh dunia.

“Perasaan senang, kalau menari itu spontan saja,” terang Dhika dilansir detikSumut, Senin (7/7/2025).

Dikha saat ini duduk di bangku kelas 5 SD. Selama bersekolah, ia mengaku tidak pernah ikut latihan menari. Kemampuannya menari di jalur diturunkan oleh ayahnya yang juga merupakan atlet pacu jalur.

Bacaan Lainnya

“Sekolah tak pernah nari-nari. Ikut ayah aja latihan pacu jalur,” kata Dhika.

Awal-awal menari, Dhika mengaku kesulitan karena harus berdiri di ujung jalur yang kecil dan basah. Bahkan, beberapa kali dia harus diselamatkan karena jatuh sebelum sampai finish.

Dosen Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning (Unilak), Hang Kafrawi, M.Sn, mengapresiasi viralnya video tersebut. Dikatakannya, inilah bukti nyata bagaimana media sosial dan kecanggihan teknologi modern mampu mengangkat nilai-nilai budaya hingga dikenal masyarakat global.

“Viral anak yang pacu jalur ini sesuatu yang luar biasa. Artinya, terbuka kemungkinan pada hari ini media sosial, semua media teknologi, kecanggihan teknologi bisa mengangkat nilai-nilai budaya ke kancah internasional,” katanya, Senin (7/7/2025).

Dijelaskan, peristiwa ini menunjukkan betapa media sosial dan kecanggihan teknologi modern dapat menjadi jembatan bagi nilai-nilai budaya lokal agar dikenal luas. Menurutnya, dengan tren “Aura Farming” tradisi Pacu Jalur bukan hanya menarik dari sisi budaya semata, tetapi juga membuka peluang besar bagi sektor pariwisata Riau.

“Fenomena yang sangat menarik, terutama di pariwisata. Ini bisa menjadi wadah atau alat untuk mempromosikan pariwisata yang ada di daerah Riau. Jadi, walaupun berada di tempat yang agak jauh, orang bisa mengetahui,” jelasnya.

Pengamat budaya ini juga menilai pentingnya pemanfaatan teknologi untuk mengemas tradisi menjadi lebih sesuai dengan konteks zaman ke zaman. Ia mengingatkan, bahwa warisan leluhur seperti Pacu Jalur memiliki nilai simbolik yang mendalam dan perlu disampaikan kepada publik secara kreatif agar relevan dengan generasi masa kini.

“Nilai-nilai budaya yang luar biasa ini dari anak kecil itu diangkat menjadi sesuatu yang sesuai pada konteks hari ini. Harus dimanfaatkan betul media sosial, bagaimana teknologi ini mengemas tradisi menjadi konteks kekinian. Dan ini harus dikembangkan terus,” terangnya.

Diungkapkan, bumi lancang kuning sejatinya kaya akan nilai budaya yang unik dan berpotensi menjadi daya tarik di mata dunia. Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah bagaimana cara masyarakat dan pemerintah daerah bersama-sama menjadikan teknologi sebagai alat untuk melestarikan serta mempopulerkan tradisi.

“Kita kaya dengan nilai-nilai budaya dan kita harus kemas pada hari ini melalui teknologi. Fenomena ini juga melihat bahwa orang di seluruh dunia, bahkan selebritis, itu melihat hal di Riau ada hal-hal yang unik,” ungkapnya.

Dituturkan, poin inti dari fenomena ini adalah bagaimana keunikan budaya lokal dapat diangkat dan dikenalkan hingga ke media internasional. Sehingga dengan promosi yang kreatif dan berkelanjutan, Pacu Jalur serra tradisi lainnya di Riau diharapkan mampu menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara, sekaligus memperkuat identitas budaya Melayu di pentas global.

“Sebenarnya konsentrasi itu adalah pada bagaimana yang unik ini bisa diangkat di media internasional. Syukur Alhamdulillah ada yang menyorot kepada tarian anak di pacu jalur itu. Padahal ini sudah lama ya, tapi paling tidak pada masa sekarang bisa terangkat kembali,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat, jelas sumringah dengan fenomena ini. “Pacu Jalur adalah simbol kekuatan, kekompakan, dan kebanggaan masyarakat Kuansing,” terangnya.

Menurut Roni, viralnya Pacu Jalur membuktikan bahwa kearifan lokal Riau punya daya pikat universal dan sanggup bersaing di kancah internasional. “Fenomena ini juga menjadi momentum emas untuk semakin meningkatkan kunjungan wisatawan ke Riau dan Kuantan Singingi, sekaligus menumbuhkan kebanggaan masyarakat lokal terhadap budayanya sendiri,” sebut Roni dengan penuh harap.

Roni juga menegaskan bahwa Pacu Jalur adalah Warisan Budaya Takbenda yang diakui secara nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Tentu ini merupakan kebanggaan luar biasa bagi kami, bagi Riau, dan khususnya Kuansing. Ini membuktikan bahwa budaya lokal kita memiliki daya tarik universal dan bisa dikenal secara global,” kata Roni, senyumnya merekah.

Dia bahkan memprediksi jumlah kunjungan wisatawan ke Kuansing dan Riau bakal meningkat tajam pada 20-24 Agustus mendatang saat Festival Pacu Jalur digelar. Iven ini bukan cuma lomba mendayung perahu panjang tahunan di Kuansing. Dengan panjang 25-40 meter dan diawaki 40-60 ‘anak pacu’, termasuk Dika si penari ‘Togak Luan’, Pacu Jalur udah jadi ikon budaya Kuansing, Riau.

Sumber: Media Center Riau

Pos terkait