Dingin Tak Tercatat
Dingin tak tercatat
pada termometer
Kota hanya basah
Angin sepanjang sungai
mengusir, tapi kita tetap saja
di sana. Seakan-akan
gerimis raib
dan cahaya berenang
mempermainkan warna
Tuhan, kenapa kita bisa
bahagia?
1971
Puisi di atas berjudul “Dingin Tak Tercatat” karya Goenawan Mohamad. Puisi ini cukup terkenal dan banyak diminati. Akan tetapi, logika bahasa puisi butuh diuji benar atau salah, baik atau buruk.
Judul puisi di atas sesungguhnya diambil dari baris pertama puisi: Dingin tak tercatat/. Baris selanjutnya merupakan baris deotomatisasi (ketaklaziman). Dalam kajian teori sastra kontemporer, misalnya, Formalisme Rusia, deotomatisasi dikerjakan dalam karya sastra untuk memantik pembaca agar efek puitis tertentu digapai.
Sekarang kita uji teknik deotomatisasi Goenawan dalam dua baris pertama puisi di atas: Dingin tak tercatat/ pada termometer/.
Alangkah mengejutkan pembukaan puisi ini, memiliki daya sentak terhadap pihak pembaca—apalagi pembaca awam. Namun, satu hal perlu diuji, apakah benar logika dua baris pertama ini dapat dibenarkan atau masuk akal.
Perhatikan baris-baris berikutnya. Kata-kata “basah”, “angin”, “gerimis”, dan “cahaya” sejujurnya menyiratkan dapat tercatat dengan termometer (alat ukur panas atau dingin). Seberapa basah (dingin), seberapa embus angin (dingin atau hangat), seberapa reda gerimis (sehabis hujan umumnya, dingin atau sejuk), seberapa terang itu cahaya (umumnya hangat atau panas).
Seluruh kata-kata penunjuk itu menandakan ada “suhu” ada “temperatur” tertentu sehalus apa pun itu. Oleh sebab itu, semua kata itu dapat diukur panas atau dinginnya sesuai derajatnya masing-masing. Jadi, kata-kata di baris pertama yang terkesan gagah-gagahan dengan teknik deotomatisasi dalam level semantik (makna) itu gugur sudah.
Goenawan sebelumnya bermaksud hendak mengusik akal pembaca dengan baris-baris “Dingin tak tercatat/ pada termometer/” agar pembaca awam terhanyut.
Ada dua anggapan sesat yang hadir, pertama, mungkin suhu terlalu dingin di sana. Ini keliru sebab ada isyarat ketercatatan suhu dan temperatur dalam baris-baris berikutnya. Kedua, mungkin saja termometer sedang dalam keadaan rusak. Ini pun keliru sebab pemadatan sintaksis dua baris pertama itu tak menyiratkan kerusakan termometer itu. Inilah yang disebut dengan kekacauan penanda pada dua baris pertama itu.
Deotomatisasi terjadi juga di bait akhir, yaitu:
Tuhan, kenapa kita bisa
bahagia?
Kata “kami” bersifat eksklusif (terlepas), sedangkan kata “kita” bersifat inklusif (terlibat). Alhasil, jika kepada Tuhan disebut secara pragmatik “Tuhan, kenapa kita bisa bahagia?”, “kita” di sana tentu bermakna gegabah ditujukan kepada Tuhan.
Meskipun kata itu ditujukan kepada kita manusia, seharusnya Goenawan menggunakan kata “kami” yang lebih tepat dan kesan kata “kita” yang dipakai Goenawan dalam baris puisi itu tak menampilkan sesuatu hal yang intelektual.
Bandingkan saja dengan baris-baris berikut ini—lebih masuk akal:
Tuhan, kenapa kami bisa
bahagia?
Sebagai kesimpulan, maka sudah jelas teknik deotomatisasi Goenawan Mohamad dalam puisi di atas gagal berdasarkan uraian baris-baris puisi sesudahnya hingga batas bait akhir dengan kecerobohan mode kebersamaan kata “kita” untuk “kami” kepada Tuhan.
Ramadan, 6 Maret 2026























































