Wonosari, intip24news.com –
Di sebuah ruangan sederhana yang penuh dengan semangat dan harapan baru, Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Wonosari pada Rabu, 21 Oktober 2026, kembali menunjukkan wajah pemasyarakatan yang humanis, membimbing, dan penuh kepedulian.
Bukan tentang hukuman, bukan tentang masa lalu, tetapi tentang masa depan. Tentang bagaimana setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk menjadi lebih baik.
Melalui kegiatan Bimbingan Kemandirian Pembuatan Pupuk Organik , Bapas Kelas II Wonosari mengajak 10 Klien Pemasyarakatan untuk belajar sebuah keterampilan yang sangat membumi, sangat relevan dengan kehidupan di Gunungkidul, dan sangat menjanjikan untuk masa depan: membuat pupuk organik.
Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Kepala Bapas Kelas II Wonosari, Ibu Andi Gafriana Mutiah. Dengan senyum hangat dan tutur kata yang penuh motivasi, beliau hadir bukan sebagai pejabat yang menggurui, tetapi sebagai seorang ibu, sebagai seorang kakak yang ingin melihat adik-adiknya berhasil.
Lebih dari Sekadar Pelatihan, Ini Tentang Kepercayaan Diri
Dalam sambutannya yang menyentuh hati, Ibu Andi Gafriana Mutiah menekankan bahwa tujuan utama dari pembimbingan kemandirian ini bukanlah sekadar membuat pupuk, tetapi membangun kepercayaan diri.
Banyak dari klien yang datang dengan rasa minder, rasa takut tidak diterima lagi oleh masyarakat. Melalui keterampilan, Bapas ingin mengatakan kepada mereka: “Kalian bisa, kalian mampu, kalian punya masa depan.”
“Kami ingin memastikan bahwa setiap klien memiliki kesempatan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan yang bermanfaat. Melalui pelatihan ini, kami berharap mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga memiliki bekal untuk menciptakan peluang usaha dan membangun kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” ujar Ana, sapaan akrab Kepala Bapas Wonosari.
Kalimat itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Bekal untuk mandiri. Bekal untuk tidak lagi bergantung, bekal untuk membuka usaha sendiri, bekal untuk kembali menjadi kepala keluarga yang produktif.
Belajar dari Ahlinya, Dari Teori Hingga Praktik Langsung
Untuk memastikan ilmu yang diberikan tidak hanya teori di atas kertas, Bapas Wonosari menggandeng dua sosok yang sangat kompeten di bidangnya, yang juga merupakan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas).
Hadir sebagai narasumber, Bapak Widodo dari Pokmas Kimbis dan Bapak Supriyanto dari Pokmas Minaraharja. Keduanya dengan sabar dan telaten memberikan materi, mulai dari pengenalan bahan-bahan alami yang ada di sekitar kita, seperti kotoran ternak, dedaunan kering, sekam padi, hingga proses fermentasi yang benar, sampai cara pengemasan yang memiliki nilai jual.
Suasana pelatihan menjadi sangat hidup karena peserta tidak hanya duduk mendengarkan. Mereka diajak Praktik langsung. Tangan-tangan mereka mengaduk, mencampur, dan merasakan sendiri proses pembuatan pupuk. Canda tawa kecil sesekali terdengar, mencairkan suasana yang awalnya kaku menjadi penuh kekeluargaan.
“Keterampilan membuat pupuk organik dapat menjadi peluang yang menjanjikan apabila dikembangkan dengan baik. Kami berharap ilmu yang diperoleh hari ini dapat terus dipraktikkan dan menjadi salah satu alternatif kegiatan usaha bagi para peserta,” ungkap Widodo, salah satu narasumber.
Benar sekali Bos. Di tengah mahalnya harga pupuk kimia dan kesadaran masyarakat akan pertanian organik yang semakin tinggi, pupuk organik adalah emas. Gunungkidul dengan lahan pertaniannya yang luas sangat membutuhkan pupuk organik. Ini adalah peluang usaha yang nyata, modal kecil, bahan melimpah, pasar terbuka lebar.

Merajut Reintegrasi Sosial dengan Hati
Kegiatan ini sejatinya memiliki makna yang jauh lebih besar dari sekadar membuat pupuk. Ini adalah tentang reintegrasi sosial.
Melalui pembimbingan yang berkelanjutan, Bapas Wonosari berupaya menumbuhkan tiga hal penting dalam diri klien: motivasi, tanggung jawab, dan semangat kemandirian. Tiga hal inilah yang akan menjadi jangkar mereka agar tidak kembali terjerumus dan mampu kembali berperan aktif serta memberikan kontribusi positif di lingkungan masyarakat.
Kolaborasi bersama Pokmas Kimbis dan Pokmas Minaraharja juga menjadi bukti indah bahwa proses pembimbingan tidak bisa dilakukan oleh Bapas sendiri. Butuh dukungan masyarakat, butuh sinergi, butuh uluran tangan dari semua pihak untuk menerima mereka kembali.
Kegiatan berlangsung dengan Lancar dan kondusif. hingga akhir. Wajah-wajah 10 klien yang tadi pagi datang dengan sedikit ragu, kini pulang dengan membawa sekarung ilmu dan segudang harapan baru.
Melalui program ini, Bapas Kelas II Wonosari berharap keterampilan yang diperoleh hari ini tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi benar-benar menjadi bekal nyata untuk membangun kehidupan yang lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan. Bekal untuk masa depan yang lebih cerah, masa depan yang penuh harapan.
Karena setiap orang berhak untuk berubah, dan setiap perubahan butuh dibimbing. (Red)











































