DI Bawah Langit Sewokoprojo, Gunungkidul Gelar Malam Tirakatan: “Merdeka Adalah Amanah, Bukan Hadiah”

Gunungkidul, intip24news.com

Lampu kuning temaram menerangi Bangsal Sewokoprojo, jantung Pemerintahan Kabupaten Gunungkidul, Minggu malam 16 Agustus 2026. Di tempat itu, Forkompinda dan seluruh elemen masyarakat berkumpul dalam satu ikatan: mengenang, merenung, dan berjanji.

Malam Tirakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan RI digelar khidmat mulai pukul 21.15 WIB. Sekitar 200 orang hadir, duduk bersila di bawah atap bangsal yang menjadi saksi sejarah panjang Gunungkidul.

Hadir Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih.SE.MP, Sekda Drs. Sri Suhartanta, Dandim 0730/Gunungkidul Letkol Inf Alfian Yudha Praniawan, Kapolres AKBP Damus Asa, Danlanud Gading Mayor Lek Marwan, Ketua DPRD Endang Sumiarni, Ketua PN Wonosari Junita Pancawati, para OPD, Panewu, hingga tokoh agama dan masyarakat.

Bacaan Lainnya

Tidak ada pidato yang panjang lebar. Yang ada adalah keheningan, doa, dan pesan kebangsaan yang menampar kesadaran.

Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah
Dalam sambutannya, Bupati Endah mengajak seluruh hadirin menundukkan kepala. Bukan untuk lemah, tapi untuk mengingat.

“Malam tirakatan ini momentum kita untuk mengenang jasa para pahlawan, mendoakan para pendahulu bangsa, sekaligus merenungkan tanggung jawab kita melanjutkan perjuangan mereka,” ujarnya dengan suara bergetar.

81 tahun Indonesia merdeka. 81 tahun kita diberi kesempatan menentukan nasib sendiri. Tapi menurut Bupati, kemerdekaan bukan garis finish. Ia adalah garis start untuk kerja nyata.

“Kemerdekaan membawa tanggung jawab. Bagaimana kita mengisinya dengan persatuan, keadilan, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Tema tahun ini ‘Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur’ harus kita jawab dengan karya, bukan hanya dengan upacara,” Tegasnya.

Di tengah sambutan, Bupati mengutip amanat Bung Karno 17 Agustus 1966 yang hingga kini masih relevan: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! Jika engkau meninggalkan sejarahmu, engkau akan berdiri di atas kekosongan.”

“Kita boleh melangkah jauh ke depan, membangun gedung tinggi, membuka jalan, mengembangkan wisata. Tapi jangan sampai kita lupa siapa yang mengaspalkan jalan itu dengan darah. Jangan sampai kita lupa siapa yang menanamkan nilai gotong royong di tanah Gunungkidul ini,” lanjut Bupati.

Gunungkidul dan Falsafah “Memayu Hayuning Bawana”

Yang membuat malam itu berbeda adalah nafas lokal yang kuat. Bupati mengingatkan kembali jati diri Gunungkidul: daerah batu kapur yang keras, tapi punya hati yang lembut dan semangat yang tak pernah padam.

“Di atas hamparan batu kapur yang kokoh dan di tengah keindahan pesisir yang megah, Gunungkidul terus menegaskan semangat Jumangkah Anjantra Laku Memayu Hayuning Bawana. Menembus keterbatasan,” ucapnya.

“Memayu Hayuning Bawana” – memperindah dunia. Itulah yang kini diterjemahkan Pemkab dalam bentuk nyata: mengalirkan air ke daerah kekeringan, membuka akses jalan, menguatkan UMKM, menjaga budaya, dan memastikan tidak ada satu warga pun yang tertinggal.

“Gunungkidul terus melangkah. Bangkit dengan kekuatan sendiri. Menjaga alamnya sekaligus menyejahterakan rakyatnya. Inilah makna kemerdekaan yang harus kita wariskan ke anak cucu kita,” pesannya.

Doa untuk Para Pahlawan, Janji untuk Negeri
Puncak malam itu adalah doa bersama. Nama-nama pahlawan disebut satu persatu. Harapannya satu: semoga pengorbanan mereka diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Suasana hening. Beberapa pejabat tampak menunduk. Dandim, Kapolres, dan seluruh Forkompinda duduk sejajar, tanpa sekat pangkat. Karena malam itu, semua sama: anak bangsa yang sedang berhutang budi pada sejarah.

“Kepada kita yang masih diberi kesempatan mengabdi, mari kita jawab kemerdekaan dengan pengabdian terbaik. Dari Gunungkidul, mari kita terus melangkah bersama, bekerja dengan tulus untuk masyarakat, bangsa dan negara,” tutup Bupati.

Usai doa dan ramah tamah, rombongan tidak langsung pulang. Mereka melanjutkan perjalanan ke Taman Makam Pahlawan Bhakti Pertiwi di Jeruk Sari, Wonosari untuk Renungan Suci tengah malam. Dari bangsal menuju pusara. Dari merenung menuju menghormat.

Malam Tirakatan di Sewokoprojo selesai. Tapi pesannya akan terus menggema: Merdeka itu bukan hadiah. Merdeka itu amanah. Dan amanah harus dijaga dengan keringat. (Pri)



Pos terkait