Oleh: KH. Ir. Ronggosutrisno Bchk
Pemuda Menteng 31 adalah sebutan bagi para pemuda yang menculik Bung Karno dan Bung Hatta dibawa ke Rengas Dengklok Karawang. Pemuda Menteng 31 adalah berkumpulnya para pemuda dari berbagai daerah di nusantara yang bermukim, berdiskusi dalam rangka melakukan gerakan perjuangan menuju Kemerdekaan Indonesia.
Mereka berkumoul di Gedung Menteng 31 yang terletak di Jalan Menteng Raya Jakarta pusat, kini dikenal dengan nama Gedung Juang 45.
Ketika menjelang diproklamirkan kemerdekaan RI, dantara pemuda Menteng 31 itu, Soekarni, Chaerul Saleh dan Winata pada tanggal 16 Agustus 1945 pukul 00.30 WIB menculik Bung Karno dan Bung Hatta dari Jakarta dan membawanya ke suatu daerah di Rengas Dengklok, Karawang.
Peristiwa ini merupakan episode penting dari sejarah panjang Kemerdekaan Republik indonesia tercinta.
Kedua tokoh (Bung Karno dan Bung Hatta) didesak untuk segera memproklamirkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.
Pada saat itu terjadi kesepakatan antara kaum tua yang dimotori Soekarno-Hatta dan kaum muda yang didirijeni Mr Achmad Subardjo, hal ini dilakukan tatkala jepang mengalami kekalahan dalam kancah Perang Dunia ke II. Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sehingga Kaisar Jepang Hirohito saat itu dipaksa menyerah kepada sekutu.
Sebelum itu para tokoh Bung Karno dan Bung Hatta terlibat dalam satu badan yang dibentuk Jepang yaitu BPPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) di mana Ir. Soekarno sebagai ketuanya.
Dalam pada itu terjadi kekosongan kekuasaan dan para pemuda menginginkan agar segera diproklamirkan kemerdekaan Indonesia.
Penculikan itu bukanlah dalam arti terjadi kekerasan, para pemuda itu berusaha mengamankan Soekarno dan Hatta dari tekanan Jepang.
Di situlah terjadi kesepakatan antara kaum muda dan kaum tua yang diwakili Bung Karno dan Bung Hatta, lebih tepat jika dimaknai sebagai kebulatan tekad dan ini merupakan episode terpenting dari sejarah panjang kemerdekaan Republik Indonesia.
Lantaran itu pula, untuk memperingati momen terpenting ini pada tahun 1950 dibangun Tugu Proklamasi Rengas dengklok yang pada tahun 1984 sempat dilakukan pemugaran atau perbaikan oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karawang.
Tugu ini berada di Kampung Bojong Tugu, Desa Rengasdengklok Utara, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Selanjut nya di rumah Djiaw Kie Siong, warga negara Indonesia keturunan Tionghoa, di susunlah naskah proklamasi dan pada saat itu sudah dikibarkan Sang Saka Merah Putih sebagai persiapan kemerdekaan.
Rencananya teks Proklamasi tersebut akan dibacakan di lapangan IKADA sekarang monumen nasional atawa MONAS, tetapi berita telah menyebar luas lapangan ikada pun di jaga ketat oleh tentara jepang. Untuk menghindari bentrokan fisik para patriot proklamasi, akhirnya pembacaan teks proklamasi itu dibacakan di rumah kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No 56, Jakarta di hari Jumat tanggal 17 bulan agustus 1945.
Kisah di atas menginspirasi kita sebagai patriot penerus generasi bangsa yang mempunyai tanggung jawab menjaga keutuhan negara republik indonesia.
Bagi kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Karunia Allah yang harus dijaga dengan jiwa-raga kita.
Sudah sepantasnyalah kita sebagai pewaris kota penuh sejarah yang nyaris terlupakan, dengan penuh kesadaran dan jiwa patriot, kita dukung penuh pencanangan pada setiap tanggal 16 Agustus kita bersama sama berkumpul di Tugu Proklamasi Rengas Dengklok untuk mengikuti upacara mengenang detik-detik Proklamasi dengan mengheningkan cipta serta memanjatkan doa, untuk para pejuang Kemerdekaan.
Monumen Kebulatan Tekad merupakan sebuah Tugu Proklamasi Rengasdengklok di Karawang. Yang dibangun Atas dasar fakta sejarah.
Maka tugas kita bersama menjadikan Kota Karawang sebagai kota wisata sejarah. Salah satu wisata tersebut adalah Monumen Kebulatan Tekad.
Ditulis KH Ronggosutrisno Tahir




















































