Kesepakatan Keamanan China dengan Solomon Menimbulkan Kekhawatiran di Pasifik

INTIP24NEWS – Terbentuknya Aliansi Keamanan antara China dan Kepulauan Solomon telah menarik perhatian di seluruh Pasifik Selatan. Banyak negara khawatir hal itu dapat memicu penumpukan militer skala besar antara aliansi tersebut dengan aliansi Amerika, Inggris dan Australia.

Kehadiran militer China di Kepulauan Solomon akan menempatkannya tidak hanya di depan pintu Australia dan Selandia Baru, tetapi juga di dekat wilayah Guam, pangkalan militer AS yang sangat besar.

Sejauh ini, ambisi China baru mengoperasikan satu pangkalan militer di negara Tanduk Afrika yang miskin namun strategis, Djibouti.

Banyak yang percaya bahwa Tentara Pembebasan Rakyat China sibuk membangun jaringan militer di luar negeri dalam berbagai bentuk.

Bacaan Lainnya

Solomon merupakan sebuah negara kecil yang memiliki ratusan pulau. Kepulauan Solomon sebenarnya berhasil membentuk pemerintahan yang stabil hingga tahun 1998. Namun, dalam kurun waktu 1998-2006 pemerintah Negara Kepulauan Solomon banyak berbuat kesalahan sehingga menciptakan banyak kejahatan dan konflik etnis.

Untuk menyeleseikan masalah ini, Selandia Baru dan Australia harus turun tangan supaya tercipta kedamaian. Kepaluan Solomon tidak memiliki angkatan perang. Pemerintah Negara Kepulauan itu membayar ke Australia untuk menjaga keamanan di wilayah negara itu.

Pemerintah Kepulauan Solomon mengatakan draf perjanjiannya dengan China telah diparaf minggu lalu dan akan diklirkan untuk segera ditandatangani.

Rancangan tersebut, yang bocor secara online, mengatakan bahwa kapal perang China dapat berhenti di Kepulauan Solomon untuk “pengisian logistik” dan bahwa China dapat mengirim polisi, personel militer, dan angkatan bersenjata lainnya ke Kepulauan Solomon “untuk membantu menjaga ketertiban sosial.”

Rancangan perjanjian tersebut menetapkan China harus menyetujui informasi apa yang diungkapkan tentang pengaturan keamanan bersama, termasuk pada wawancara dengan media.

Baik China maupun Solomon dengan tegas membantah bahwa pakta baru akan mengarah pada pendirian pangkalan militer China.

Pemerintah Kepulauan Solomon mengatakan pakta itu diperlukan karena kemampuannya yang terbatas untuk menangani pemberontakan dengan kekerasan seperti yang terjadi pada November.

“Negara ini telah dirusak oleh kekerasan internal yang berulang selama bertahun-tahun,” kata pemerintah minggu ini.

Tetapi Australia, Selandia Baru, dan AS telah menyatakan kekhawatirannya.

David Panuelo, presiden Mikronesia yang berada dekat dengan kawasan itu menulis surat kepada Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare memintanya untuk memikirkan kembali perjanjian tersebut.

Dia mengingatkan bahwa Mikronesia dan Kepulauan Solomon pernah menjadi medan pertempuran selama Perang Dunia II, dan terperangkap dalam bentrokan dengan kekuatan besar.

“Saya yakin, tidak satu pun dari kita ingin melihat konflik dengan cakupan atau skala itu lagi, dan terutama di halaman belakang kita sendiri,” tulis Panuelo.

Tetapi menteri kepolisian Kepulauan Solomon mengejek kekhawatiran Panuelo di media sosial, dengan mengatakan dia seharusnya lebih khawatir tentang negaranya sendiri yang ditelan lautan karena perubahan iklim.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan perjanjian itu bertujuan untuk menjaga keamanan warga saja dan tidak ada nuansa militer.

“Spekulasi media tentang potensi pengembangan pangkalan tidak berdasar.” Jelasnya.

Euan Graham, seorang rekan senior di Institut Internasional untuk Studi Strategis yang berbasis di Singapura, mengatakan “China telah mengejar fasilitas pelabuhan semacam itu selama sekitar lima tahun karena bertujuan untuk memperluas kehadiran angkatan lautnya di Pasifik Selatan sebagai bagian dari permainan panjang Beijing.
berusaha menjadi kekuatan regional yang dominan.”

“Jika mereka ingin menembus Pasifik, pada titik tertentu mereka akan membutuhkan kemampuan logistik untuk mendukung kehadiran itu,” kata Graham.

“Kami tidak berbicara tentang rencana perang di sini; tapi ini benar-benar tentang memperluas kehadiran dan pengaruh mereka.”

Tidak seperti pangkalan yang dibangun di Djibouti, di mana China memiliki kepentingan komersial di kawasan itu untuk dilindungi, Graham mengatakan operasi apa pun di Kepulauan Solomon kemungkinan akan kurang bermakna substansial.

“Ini adalah permainan geopolitik yang cukup halus dan menarik yang muncul di Pasifik Selatan,” tambahnya.

“Dan saya pikir China sangat sukses, dalam mengungguli Amerika Serikat dan Australia dalam persaingan pengaruh, bukan persaingan militer,” tegasnya.

Sumber: The Guardian
Editor: Hasan M





Pos terkait