Semangat Peringati Kemerdekaan dan HBI, Warga KPK Pondok Kelapa Rawat Toleransi serta Kebersamaan

Kota Tangerang, intip24news.com –
Semangat menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan hari besar umat islam mulai terasa di lingkungan masyarakat. Salah satunya terlihat di kawasan RT 001/RW 003, Kelurahan Sumur Pacing, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Banten, Minggu (9/8/2026).

Sejumlah warga dari berbagai latar belakang terlihat bergotong royong mempersiapkan lingkungan dengan memasang berbagai ornamen dan hiasan bernuansa kemerdekaan serta menyiapkan perayaan hari besar umat islam.

Kegiatan tersebut dilakukan secara swadaya “tanpa adanya campur tangan dari yang katanya dewan perwakilan rakyat maupun pemerintah daerah”,dengan mengedepankan semangat kebersamaan, toleransi serta kepedulian terhadap lingkungan.

Aktivitas warga tersebut menjadi gambaran bahwa semangat kemerdekaan tidak hanya diwujudkan melalui upacara atau perlombaan yg dianggap lebih banyak sisi seremonialnya, tetapi juga melalui gotong royong dan kepedulian antarwarga, tanpa melihat perbedaan suku, adat, ras maupun agama.

Bacaan Lainnya

Semangat tersebut juga dinilai sejalan dengan nilai Bhinneka Tunggal Ika, yakni perbedaan bukan alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun persatuan.

Rembug Warga Jadi Kekuatan

Ketua Panitia KPK (Keluarga Besar Pondok Kelapa), Agus, menyampaikan bahwa masyarakat memiliki semangat sendiri dalam menjaga kebersamaan dan persatuan di lingkungan mereka.

Menurutnya, kegiatan yang dilakukan warga lahir dari kesadaran bersama melalui rembug dan gotong royong.

“Jangan ajarkan kami tentang Bhinneka Tunggal Ika dan semangat kemerdekaan. Kami sudah hidup berdampingan, rembug bersama, bahu-membahu dan menjaga toleransi di lingkungan kami,” ujar Agus.

Agus menegaskan, perbedaan tidak seharusnya dijadikan bahan untuk memecah masyarakat. Justru, menurutnya, keberagaman harus menjadi modal sosial untuk menjaga persatuan dan keharmonisan lingkungan.

“Kami berbeda suku, adat, ras dan agama, tetapi kami tetap satu sebagai masyarakat Indonesia. Jangan sampai kepentingan tertentu membuat masyarakat terpecah. Semangat kemerdekaan harus tetap menyala,” tegasnya.

Ia juga berharap seluruh pihak dapat menghormati kemandirian masyarakat dalam membangun kebersamaan, kendati demikian agus berharap dapat membuka ruang komunikasi dengan pemerintah maupun para wakil rakyat secara proporsional dan sesuai aturan.

Toleransi Jadi Benteng Persatuan

Kegiatan warga tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa toleransi dalam kehidupan berbangsa bukan sekadar slogan. Nilai tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana seperti saling membantu, menghormati kegiatan keagamaan, menjaga lingkungan dan menyelesaikan persoalan melalui musyawarah.

Semangat kebersamaan masyarakat juga tidak seharusnya redup hanya karena adanya perbedaan pandangan maupun kepentingan. Sebaliknya, setiap perbedaan dapat diselesaikan dengan komunikasi, musyawarah dan saling menghormati.

Dalam konteks jurnalistik, pemberitaan mengenai kegiatan masyarakat juga perlu disampaikan secara faktual, berimbang dan tidak menghakimi. UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers menjadi salah satu landasan kemerdekaan pers, sementara Kode Etik Jurnalistik menjadi pedoman etika profesi wartawan.

Dari lingkungan Sumur Pacing, pesan yang muncul sederhana namun kuat: kemerdekaan bukan hanya tentang mengenang perjuangan masa lalu, tetapi juga menjaga persatuan pada hari ini.

Berbeda bukan berarti berpisah. Beragam bukan berarti terpecah. Bersama, masyarakat membuktikan bahwa semangat kemerdekaan dan toleransi tetap hidup.

Penulis: Arfn Vj



Pos terkait