Sebaliknya, kapal-kapal yang berasal dari Laut Merah dan daratan Afrika harus berputar kembali mengelilingi daratan Afrika untuk sampai ke Laut Tengah dan Daratan Eropa.
Hal itu membutuhkan jarak tempuh yang panjang, dan waktu sampai semakin lama. Bukan hanya itu, hal ini juga berdampak pada biaya operasional kapal yang harus dikeluarkan.
Maka, adanya Terusan Suez yang menjadi kanal atau lintasan singkat, membantu kapal-kapal yang berasal dari Laut Tengah menuju ke Laut Merah atau sebaliknya, semakin cepat dan mudah.
Dengan biaya operasional yang lebih rendah, akan memungkinkan aktivitas ekonomi yang lebih efisien dan efektif. Perdagangan dengan intensitas yang lebih tinggi juga dapat diraih dengan Terusan Suez tersebut.
Sejarah Pembangunan Terusan Suez
Pembangunan Terusan Suez sebenarnya sudah digagas oleh seorang penjelajah asal Perancis, Linant de Bellefonds, sejak 1830-an.
Pada masa itu, Bellefonds melakukan survei ke Isthmus of Suez dan memastikan bahwa Laut Mediterania dengan Laut Merah memiliki ketinggian yang sama sehingga proses pembangunan konstruksi dapat dilakukan dengan jauh lebih mudah.
Isthmus of Suez adalah sebidang tanah yang ada di antara Laut Merah dan Laut Mediterania.
Setelah itu, pada 1854, Ferdinand de Lesseps yang merupakan diplomat Perancis, mencoba membujuk Gubernur Mesir, Ismail Pasha untuk membangun sebuah kanal guna menembus akses dari Laut Tengah menuju Laut Merah.
Pasha pun menyetujui ide dari Lesseps dan mengizinkannya membuat sebuah perusahaan untuk melanjutkan proses pembangunan kanal.
Terusan Panama
Tanah daratan Panama yang menghubungkan Amerika Utara dengan Amerika Latin adalah tanah yang diapit Samudra Atlantik dan Pasifik. Dalam bukunya Historical Dictionary of Panama, Thomas M. Leonard menulis bahwa Vasco da Gama, pada pagi 25 September 1513, membayangkan bisa menuju Samudra Pasifik dari Atlantik tanpa harus berputar ke selatan terlebih dahulu.
Caranya? Dengan menyeberangi daratan Panama.


















































