Biden juga awalnya tidak ingin menembak jatuh balon mata-mata yang diduga, tetapi melakukannya saat paranoia di sekitarnya tumbuh.
Demikian pula, pemerintah telah belajar bahwa menggunakan China sebagai kambing hitam politik memungkinkannya untuk ‘menghindari’, sampai batas tertentu, serangan sayap kanan, seperti yang paling terbukti dengan bagaimana ia merangkul kembali teori konspirasi kebocoran laboratorium Covid-19.
Keadaan politik yang memecah belah dan terpolarisasi di dalam AS ini pada akhirnya membuat diplomasi menjadi tidak mungkin, dan sangat dicatat bahwa bahkan ketika China telah melakukan diplomasi dengan pejabat AS, mereka telah menunjukkan taktik merendahkan dengan mengumumkan sanksi baru baik sebelum atau sesudah pertemuan semacam itu, agar
tampil ‘tangguh’.
Kesimpulannya, mengapa mesti repot-repot?
AS jelas bukan aktor atau mitra yang bisa diandalkan.
China akan terus membayangi (Ghosting) AS sampai dianggap dapat mencapai beberapa konsesi yang dapat diterima, dan dengan demikian mendikte aliran dialog untuk mempertahankan suara yang setara dalam hubungan tersebut.
Mengapa menaruh begitu banyak komitmen untuk berbicara dengan seseorang yang secara tidak rasional membenci Anda, mencap Anda sebagai musuh dan ancaman terbesar mereka, dan jelas tidak memiliki apa-apa selain niat bermusuhan terhadap Anda?
Sumber: RTNews
Editor: Hasan M





















































