Oleh: ET Hadi Saputra https://x.com/ethadisaputra
Dunia internasional baru saja menyaksikan sebuah tindakan “premanisme global” yang dipentaskan di panggung Caracas pada awal Januari 2026. Penangkapan paksa Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, beserta istrinya melalui operasi militer Operation Absolute Resolve, bukan sekadar upaya penegakan hukum terhadap narapidana narcoterrorism.
Ini adalah aksi Show of Force yang vulgar dari Amerika Serikat (AS), sebuah upaya putus asa untuk menegaskan kembali hegemoninya yang mulai luntur di era multipolar.
Washington sedang mengirim pesan berdarah: di halaman belakangnya sendiri, kedaulatan sebuah negara hanyalah selembar kertas yang bisa dirobek kapan saja oleh sepatu lars pasukan khusus AS.
Standar Ganda dan Diplomasi Koboi
Penyerangan terhadap Venezuela adalah langkah strategis yang kalkulatif. Dengan menyerang negara tetangganya sendiri, AS menghindari risiko logistik yang terlalu besar, namun mendapatkan dampak psikologis yang masif. Alasan klasik mengenai perdagangan narkoba dan penguasaan cadangan oil hanyalah bumbu pemanis untuk menutupi agenda utama: Regime Change.
AS sedang mempertontonkan standar ganda yang menjijikkan. Di satu sisi mereka berbicara mengenai tatanan dunia berbasis aturan (rules-based order), namun di sisi lain mereka bertindak layaknya polisi dunia yang kebal hukum, menculik kepala negara aktif di rumahnya sendiri. Ini adalah peringatan bagi blok BRICS dan aliansi Global South lainnya bahwa Washington masih bersedia menggunakan cara-cara barbar untuk mempertahankan dominasi energinya.
Iran: Medan Laga yang Jauh Lebih Berbahaya
Target berikutnya sangat mungkin adalah Teheran. Namun, Abanda benar, menyerang Iran adalah persoalan yang jauh melampaui urusan minyak atau narkoba. Jika di Venezuela AS hanya menghadapi krisis ekonomi domestik, di Iran mereka akan menghadapi ideologi yang mengakar dan jaringan militer Axis of Resistance.
Berupaya mengganti rezim di Iran akan memicu konsekuensi kiamat bagi ekonomi global. Iran bukan hanya memiliki kekuatan militer konvensional yang lebih tangguh, tetapi juga memegang kunci Selat Hormuz. Jika Washington mencoba menerapkan pola Caracas di Teheran, mereka tidak hanya akan memicu perang regional, tetapi juga konfrontasi langsung dengan kepentingan Rusia dan China yang memiliki keterikatan strategis jauh lebih dalam dengan Iran.
Alarm Bagi Jakarta: Kedaulatan Bukan Belas Kasihan
Analisis ini membawa kita pada refleksi pahit bagi Indonesia. Jika hari ini AS dengan angkuh “mengobok-obok” Venezuela, maka tidak ada jaminan bahwa di masa depan Indonesia tidak akan mengalami nasib serupa. Kekayaan sumber daya alam kita dan posisi strategis di jalur maritim dunia adalah “madu” yang bisa mengundang intervensi asing dengan seribu satu dalih.
Indonesia harus segera mengambil langkah diplomatik dan strategis yang berani melalui Kementerian Luar Negeri:
Melawan Normalisasi Penangkapan Kepala Negara: Indonesia harus menjadi pelopor di PBB untuk mengutuk tindakan penangkapan kepala negara aktif sebagai preseden yang menghancurkan hukum internasional. Jika dibiarkan, tidak ada pemimpin dunia yang aman dari kehendak Washington.
Percepatan De-dollarisasi: Kedaulatan ekonomi harus diperkuat melalui sistem Local Currency Settlement. Ketergantungan pada dolar adalah tali leher yang bisa ditarik Washington kapan pun mereka ingin mematikan ekonomi kita melalui sanksi unilateral.
Postur Pertahanan yang Mengetarkan: Belajar dari Venezuela, kita harus memperkuat pertahanan nasional bukan hanya secara fisik, tapi juga secara intelijen dan siber. Kita tidak boleh membiarkan celah fragmentasi domestik menjadi pintu masuk bagi operasi regime change asing.
Penutup
Peristiwa di Caracas adalah bukti bahwa hukum rimba geopolitik masih berdenyut kencang di bawah kulit diplomasi modern. AS sedang menunjukkan bahwa mereka masih sanggup melakukan apa pun terhadap siapa pun.
Bagi Indonesia, kedaulatan bukan diberikan melalui pengakuan diplomatik atau belas kasihan negara besar, melainkan melalui kekuatan pertahanan dan persatuan nasional yang tidak bisa ditembus. Jika kita tidak bersiap dari sekarang, hari-hari mendatang bukan tidak mungkin bayang-bayang intervensi itu akan singgah di Jakarta.






















































