UNESCO Tetapkan Sumbu Filosofi Yogyakarta Sebagai Salah Satu Warisan Dunia

Pihaknya berharap penetapan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai warisan dunia ini akan memberikan dorongan semangat bagi seluruh pemangku kepentingan di seluruh Tanah Air untuk bersama-sama melestarikan warisan budaya dan cagar budaya yang dimiliki.

“Perjuangan mempertahankan status jauh lebih berat, karena Sumbu Filosofi tidak hanya menjadi milik DIY, Indonesia tapi juga milik dunia. Sehingga komitmen bersama untuk menjaga sesuai standar internasional menjadi sangat penting untuk dipahami,” kata Dian.

Seperti diberitakan, Sumbu Filosofi Yogyakarta yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO bertajuk lengkap the Cosmological Axis of Yogyakarta and Its Historic Landmarks, diakui sebagai warisan dunia lantaran dinilai memiliki arti penting secara universal. Konsep tata ruang yang kemudian dikenal sebagai Sumbu Filosofi Yogyakarta ini dicetuskan perdana oleh Raja Pertama Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada abad ke-18.

Konsep tata ruang ini dibuat berdasarkan konsepsi Jawa dan berbentuk struktur jalan lurus yang membentang antara Panggung Krapyak di sebelah selatan, Kraton Yogyakarta, dan Tugu Yogyakarta di sebelah utara.

Bacaan Lainnya

Struktur jalan tersebut beserta sejumlah kawasan di sekelilingnya yang penuh simbolisme filosofis merupakan perwujudan falsafah Jawa tentang keberadaan manusia yang meliputi daur hidup manusia (Sangkan Paraning Dumadi), kehidupan harmonis antar manusia dan antara manusia dengan alam (Hamemayu Hayuning Bawana), hubungan antara manusia dan Sang Pencipta serta antara pemimpin dan rakyatnya (Manunggaling Kawula Gusti), serta dunia mikrokosmik dan makrokosmik.

Beragam tradisi dan praktik budaya Jawa, baik dalam pemerintahan, hukum adat, seni, sastra, festival, dan ritual, masih terselenggara di seputaran kawasan Sumbu Filosofi pada khususnya dan di Yogyakarta pada umumnya. Ini sebagai bukti akan peradaban Jawa dan tradisi budayanya yang masih terus dilestarikan sampai sekarang.

Dengan penetapan UNESCO ini, Indonesia kini memiliki lima warisan budaya dunia, yaitu Candi Borobudur dan Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran (1996), Subak Bali (2012), Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (2019), dan Sumbu Filosofi Yogyakarta (2023).

Sri Sultan HB X berharap berharap penetapan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia mampu dijadikan inspirasi dan referensi bersama akan nilai-nilai universal untuk mewujudkan dunia baru yang lebih baik di masa depan.

Menurutnya pengakuan dari UNESCO itu merupakan hasil bahu membahu semua pihak, dan sebuah penghargaan atas mahakarya Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai pemrakarsa Sumbu Filosofi yang sarat nilai filosofi tinggi.

Pos terkait