YOGYAKARTA I INTIP24 News – Semangat kebangsaan dan inklusi menyatu dalam Parade Kebangsaan “Suara Inklusi untuk Semua 2026” Ribuan peserta menggelar kirab budaya dari Gedung DPRD Provinsi DIY menuju Gedung Agung, Yogyakarta, pada Rabu, 12 Agustus 2026 pukul 15.30 – 17.40 WIB.
Kegiatan yang digagas Yayasan DIWA Foundation bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini diikuti sekitar 1.500 orang dari berbagai elemen masyarakat.
Parade ini dihadiri jajaran pejabat tinggi. Di antaranya KGPA Adipati Aryo Pakualam X Wakil Gubernur DIY, Siti Hediyati Soeharto, S.E. – Ketua Komisi IV DPR RI , Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti,M.Ed – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, serta Deni Mulyana, http://S.IP., M.M. – Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta.
Tampak juga Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono, Danrem 072/Pmk Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, Walikota Yogyakarta dr. Hasto Wardoyo, Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Ari Setyawan Wibowo, Kapolres Gunungkidul AKBP Damus Asa , dan Ketua DIWA Foundation Diah Warih Anjari.
Sejumlah pejabat kementerian, OJK, PB PGRI, DPD RI, KADIN, dan tokoh masyarakat juga turut hadir memberikan dukungan.
Kirab Penuh Makna Keberagaman
Peserta kirab menampilkan wajah keberagaman Indonesia. Barisan dimulai dari Paskibraka pembawa Bendera Merah Putih dan Garuda Pancasila, disusul TNI-Polri , Barisan Bregodo , pakaian adat , marching band , komunitas sepeda, hingga ormas keagamaan dan kepemudaan seperti FKUB, Fatayat, Aisyiyah, Banser, Ansor, KNPI, GM FKPPI, Pagar Nusa, Tapak Suci, dan Hizbul Wathon.
Momen paling mengharukan adalah pembacaan Teks Proklamasi menggunakan bahasa isyarat oleh 1.000 penyandang disabilitas , Aksi ini menjadi simbol bahwa kemerdekaan dan nilai kebangsaan milik seluruh warga negara tanpa terkecuali.

Wakil Gubernur DIY KGPA Adipati Aryo Pakualam X dalam sambutannya mengatakan, esensi kegiatan ini bukan soal rekor, melainkan pesan bahwa ruang partisipasi harus terbuka untuk semua.
“Kemajuan bangsa ditentukan sejauh mana setiap warga mendapat kesempatan hadir, berpartisipasi, dan diakui,” tegasnya.
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto mengapresiasi Yogyakarta sebagai kota pendidikan dan budaya yang tepat menyuarakan inklusi.
“Tidak boleh ada anak bangsa yang merasa tersisih. Setiap orang berhak pendidikan, pekerjaan, dan masa depan yang sama,” ujarnya.

Sementara Menteri Dikdasmen Prof. Abdul Mu’ti menegaskan komitmen pemerintah menghadirkan pendidikan yang Aksesibel, fleksibel, dan terjangkau.
“Sesuai UUD 1945, setiap warga negara berhak pendidikan bermutu. Ini adalah amanah konstitusi dan atensi Bapak Presiden untuk Indonesia Emas 2045,” jelasnya.
Ketua DIWA Foundation Diah Warih Anjari menyebut inklusi adalah prinsip kesetaraan tanpa diskriminasi. Ia mencontohkan Keraton Yogyakarta yang sejak lama menempatkan penyandang difabel sebagai Abdi Dalem.

“Semoga suara inklusi ini bergaung ke seluruh pelosok negeri,” ucapnya.
Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat komitmen bersama menuju Indonesia yang inklusif, setara, dan bermutu dalam pendidikan maupun kehidupan sosial.
Selama kegiatan berlangsung, situasi berjalan aman, tertib, dan penuh semangat kebangsaan. (Dwi Adi)














































