JAKARTA – 38 tahun sudah berlalu, sebuah tragedi pernah terjadi di Tanjung Priok, Jakarta pada 12 September 1984. Tragedi itu dikenal dengan sebutan ‘Peristiwa Tanjung Priok’, sebuah tragedi kemanusian yang memakan tidak sedikit korban jiwa dan beberapa gedung-gedung dibakar.
Tragedi berdarah itu merupakan salah satu peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang terjadi pada Masa Orde Baru, yang dilakukan aparat pemerintah terhadap warga Tanjung Priok
Untuk mengenang peristiwa itu, kini diperingati setiap tahunnya oleh tokoh dan berbagai elemen warga Tanjung Priuk.
Baru-baru ini, Komunitas Lingkar 17 bersama beberapa tokoh ulama serta elemen masyarakat Tanjung Priok Jakarta Utara kali ini menggelar silaturahmi dalam rangka mengenang korban peristiwa tragedi Tanjung Priok, di Masjid Al Arafah, Sukapura Cilincing, Jakarta Utara, pada Minggu (11/9) lalu.
Perhelatan penuh hikmat mengenang korban tragedi Tanjung Priok ini menghadirkan penceramah KH. Ronggosutrisno Tahir (korban tragedi Tg Priok) dan KH Maulana Poso Siregar serta keluarga besar almarhum Amir Biki. Kegiatan itu juga diisi pemberian santunan puluhan anak yatim piatu oleh DKM Masjid Al Arafah, Beni Biki yang juga adik kandung dari alm. Amir Biki.
Pada sambutan pada acara itu, Ketua Umum Komunitas Lingkar 17 Euis Chasanah mengungkapkan, “acara ini dihajatkan untuk mengenang tragedi Tanjung Priok 38 Tahun silam, serta sebagai momentum agar kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang,” ujar Euis Chasanah.
Pada kesempatan itu, KH Ronggosutrisno Tahir dalam ceramahnya menyampaikan, masyarakat Tanjung Priok tidak pernah anti Pancasila sebagai dasar negara.
Yang dipersoalkan saat itu adalah Pancasila sebagai satu-satunya azas di dalam sebuah organisasi keagamaan, dan ketika Pancasila digunakan untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan.
Menurut KH. Ronggosutrisno, peristiwa Tanjung Priuk adalah puncak dari kegelisahan masyarakat dan tokoh umat Islam Tanjung Priuk atas kewajiban dari pemerintah orde baru atas penerapan azas tunggal Pancasila pada organisasi keagamaan.
Pemicu peristiwa pada 12 September seperti yang banyak ditulis itu adalah puncak dari panasnya situasi sosial politik saat itu.
“Harap dicatat bahwa kami masyarakat Tanjung Priok tidak akan pernah anti Pancasila. Tapi ketika Pancasila digunakan untuk kepentingan-kepentingan kekuasaan, misalnya azas tunggal di mana Pancasila dijadikan sebagai satu-satunya azas berorganisasi. Itu yang kami persoalkan dan kami menolak,” tegasnya.
Menurutnya, untuk azas organisasi keagamaan jika harus berazaskan Pancasila harus disandingkan dengan azas keagamaan itu sendiri, sehingga.dengan demikian azas Pancasila tidak membuang azas suatu agama dalam organisasi keagamaan.
“Saya harus sekali lagi menegaskan,
bahwa masyarakat Tanjung Priok hingga kapanpun bakal tetap komitmen kepada pendirian bangsa Indonesia. Bahwa dasar negara kita adalah Pancasila,” demikian KH Ronggosutrisno Tahir.
“Banyak stigma negatif atas peristiwa itu, tapi dengan perjuangan yang tidak kenal kata menyerah selama bertahun-tahun akhirnya berhasil, Pancasila tidak diberlakukan lagi sebagai azas tunggal dalam organisasi keagamaan.” papar KH. Ronggosutrismo Tahir yang masih tetap berapi api memberikan ceramahnya.
Senada dengan KH. Ronggosutrisno, pelaku peristiwa lainmya, salah satu korban peristiwa Tanjung Priok, Yusron Zaenuri menceritakan kisah pilu saat itu. Ia menegaskan peristiwa soal azas tunggal pancasila saat itu sejatinya umat Islam Tanjung Priok sampai saat ini bukan untuk menolak Pancasila seutuhnya.
Yusron menjelaskan, tragedi Tanjung Priok merupakan peristiwa memilukan bagi para korban sehingga penyelenggaraan ini merupakan pesan moral yang dibagikan kepada masyarakat dan penyelenggara Negara ini bahwa peristiwa saat itu sangat menyakitkan.
“Tragedi Tanjung Priok tahun 1984 harus menjadi pelajaran dan untuk dicermati secara seksama. Bahwa tragedi 38 silam kedepannya tidak akan ada lagi peristiwa serupa.” jelas Yusron.
Pada akhir pernyataannya, KH. Ronggostrisno menngisahkan pengalamannya dalam rangkaian peristiwa itu.
“Saya dengan pengawasan yang cukup dan dibantu oleh Irjen Pol Kuspramono Irsan menggali kuburan para korban priok di pemakaman Mengkok dan di Cilangkap. Usai itu sempat diundang oleh Tri Sutrisno didampingi ajudannya dan saya didampingi KH Adurrahman Za’ali,” pungkasnya.


























































