Deepfake AI dalam Militer Dapat Memicu Perang Nuklir

INTIP24 News – Pengembangan Artificial Intelligence (AI) secara signifikan telah mengurangi hambatan dalam aktivitas di berbagai bidang kehidupan. Salah satunya untuk pembuatan video, audio, atau gambar palsu, sehingga penyebaran informasi yang tidak benar menjadi semakin mudah.

Pengembangan kecerdasan buatan (AI) ini jika diterapkan dalam militer dapat mengancam keamanan nuklir global. “Terutama dalam teknologi deepfake”, demikian diungkapkan oleh majalah Foreign Affairs pada Senin (29/12).

Philip Schellekens, Kepala Ekonom Biro Regional Asia-Pasifik Program Pembangunan PBB (UNDP), mengingatkan bahwa penerapan AI dalam konteks militer berpotensi menjadi ancaman bagi keberlangsungan hidup manusia, bahkan dapat menyebabkan korban jiwa dalam jumlah besar.

Ia menekankan pentingnya pengaturan yang ketat terhadap teknologi ini agar penggunaannya dilakukan dengan sangat bertanggung jawab, seperti yang dikutip dari laman Antara News pada Rabu (31/12).

Bacaan Lainnya

Deepfake merupakan teknik manipulasi audio visual menggunakan AI untuk menciptakan konten baru yang tampak asli dan meyakinkan dapat mendorong pemimpin negara yang memiliki senjata nuklir untuk melakukan serangan nuklir.

Laporan itu juga menyebutkan bahwa salah satu risiko utama adalah kemungkinan delegasi kewenangan untuk mengambil keputusan penggunaan senjata nuklir kepada sistem berbasis AI.

Di samping itu, AI telah secara signifikan mengurangi hambatan dalam pembuatan video, audio, atau gambar palsu, sehingga penyebaran informasi yang tidak benar menjadi semakin mudah, seperti yang diungkapkan dalam laporan tersebut.

Kondisi ini menjadi ancaman bagi keamanan nuklir, karena deepfake dapat digunakan untuk meyakinkan suatu negara bahwa mereka tengah diserang dengan senjata nuklir, menurut tulisan Foreign Affairs.

Selain itu, deepfake juga berpotensi disalahgunakan untuk memanipulasi pemimpin negara bersenjata nuklir agar melakukan serangan pendahuluan, atau bahkan digunakan untuk merekayasa alasan perang, menggalang dukungan publik terhadap konflik, serta memicu perpecahan di dalam masyarakat, seperti yang dijelaskan dalam laporan itu.

Pos terkait