INTIP24 News – Presiden AS Donald Trump mengumumkan Venezuela akan mengekspor antara 30 hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi AS. Minyak tersebut akan dijual dengan harga pasar, namun hasil penjualannya diatur oleh AS sepenuhnya.
Blokade ekspor minyak yang diberlakukan AS sejak pertengahan Desember membuat jutaan barel minyak Venezuela tertahan di kapal tanker dan fasilitas penyimpanan.
Kondisi tersebut memperparah krisis ekonomi Venezuela, sekaligus melemahkan posisi tawar pemerintah Caracas di tengah eskalasi konflik dengan Washington.
Tekanan AS memuncak pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari lalu.
Pemerintah sementara Venezuela menyebut penangkapan tersebut sebagai penculikan dan menuding AS berupaya mencuri cadangan minyak nasional.
Trump pun mengancam presiden sementara Venezuela Delcy Rodriguez sebelumnya menjabat wakil presiden Nicolas Maduro agar mengikuti keinginannya jika negaranya tak ingin diserang kembali.
Venezuela akhirnya membuka ladang minyaknya untuk Amerika Serikat (AS) setelah berada di bawah tekanan militer dan politik yang intens dari pemerintahan Presiden Donald Trump.
Kesepakatan ekspor minyak mentah senilai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33,6 triliun ini menandakan negara kaya minyak dan emas itu tak lagi memiliki banyak pilihan selain menuruti tuntutan Washington.
Trump juga menegaskan bahwa hasil penjualannya tidak sepenuhnya berada di tangan pemerintah Venezuela.
“Uangnya akan dikendalikan oleh saya sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” ujar Trump, dalam posting-an di Truth Social, Rabu (7/1/2026).
Selain itu, Trump secara terbuka mendesak Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodriguez, untuk memberikan akses luas kepada perusahaan minyak AS, baik milik negara maupun swasta.
Menteri Energi AS Chris Wright ditunjuk oleh Trump untuk mengawasi langsung pelaksanaan ekspor. Minyak mentah akan diambil dari kapal-kapal yang sebelumnya tertahan dan dikirim langsung ke pelabuhan AS.
Sebagian besar kargo minyak tersebut awalnya dialokasikan untuk China, pembeli utama minyak Venezuela selama satu dekade terakhir. Namun, di bawah tekanan AS, Venezuela terpaksa mengalihkan pasokan tersebut, menandai pergeseran besar dalam peta ekspor energinya.
Tak sampai di situ, presiden AS dari partai Republik ini mengatur bahwa Venezuela hanya akan membeli produk buatan Amerika sebagai bagian dari “kesepakatan” dengan Washington.
“Saya baru saja mendapat informasi bahwa Venezuela HANYA akan membeli produk buatan Amerika, dengan uang yang mereka terima dari kesepakatan minyak baru kami,” tulis Trump di Truth Social.
“Pembelian ini akan mencakup, antara lain produk pertanian Amerika, dan obat-obatan, alat kesehatan, dan peralatan buatan Amerika untuk meningkatkan jaringan listrik dan fasilitas energi Venezuela.” imbuh Trump.
Dengan kata lain, lanjut Trump, Venezuela berkomitmen untuk berbisnis dengan Amerika Serikat sebagai mitra utama mereka.
Dia mengatakan itu adalah pilihan yang “bijaksana,” dan hal yang baik bagi warga Venezuela dan Amerika.





















































