Ada yang Kurang dalam Pendidikan Kita | KH Ronggosutrisno Tahir

Seorang guru, selain mengemban tugas mendidik dan mencerdaskan para siswanya, guru juga berperan sebagai teladan dalam membentuk karakter anak didiknya. Guru menjadi model perilaku, etika, dan moral, mencontohkan sikap jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta rasa empati.

Apa yang terjadi di Jambi, dapat dianggap sebagai potret suram dunia pendidikan. Seorang guru kehilangan marwahnya di mata siswa.

Di dalam sebuah video yang viral menayangkan seorang guru dikeroyok sejumlah siswa di dalam lingkungan sekolah. Diketahui kemudian peristiwa terjadi di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.

Informasi yang beredar di media, insiden ini bermula saat guru tersebut menegur seorang siswa diduga dengan mengucapkan kata-kata tidak pantas di sekolah.

Bacaan Lainnya

Teguran tersebut berujung cekcok dan emosi pun meledak hingga situasi tak terkendali. Guru itu diduga secara refleks menampar siswa tersebut.

Di dalam rekaman video itu terlihat ketegangan hingga terjadi aksi saling pukul saat jam istirahat. Sejumlah siswa nampak kemudian melakukan pengeroyokan terhadap oknum guru.

Melihat kejadian tersebut, memberi kesadaran kita bahwa ternyata kondisi pendidikan kita saat ini sungguh memprihatinkan. Rentetan insiden kekerasan yang terjadi menunjukkan adanya ketimpangan dalam sistem pendidikan kita.

Sungguh ironis ketika seorang guru, yang sejatinya adalah pelita, panutan, dan pelindung bagi anak didik, justru menjadi korban kekerasan di tangan muridnya sendiri.

​Fenomena ini berakar dari kurangnya kedisiplinan dan pengawasan di lingkungan sekolah. Tanpa aturan yang tegas dan pengawasan yang melekat, perilaku tidak terpuji dapat tumbuh tanpa kendali. Lebih jauh lagi, kita sedang menghadapi krisis pendidikan akhlak, budi pekerti, dan karakter. Ketika pendidikan karakter terabaikan, rasa hormat siswa terhadap guru dan sesama perlahan akan luntur.

Hal ini diperburuk oleh lemahnya komunikasi antara pihak sekolah, orang tua, dan murid, sehingga bibit-bibit masalah sering kali gagal terdeteksi sejak dini.

​Untuk mencegah insiden serupa terulang kembali, sudah saatnya kita berbenah. Sekolah harus meningkatkan pengawasan dan menegakkan disiplin demi menciptakan ruang belajar yang aman. Pendidikan karakter tidak boleh lagi sekadar menjadi formalitas, melainkan harus menjadi prioritas utama demi membentuk jati diri bangsa yang lebih baik.

Menjadi pertimbangan yang sangat urgen bahwa gaji dan penghasilan guru perlu diperhatikan, pun kesejahteraannya. Guru yang sejahtera merupakan penghormatan dan mengangkat kwalitas pendidikan secara tidak langsung.

Terakhir, harus terbangun sinergi komunikasi yang kuat antara guru, orang tua, dan murid agar setiap persoalan dapat diatasi bersama secara baik dan benar.

KH Ronggosutrisno/Intip24news.com

Pos terkait