Mantan Bendahara dan Kursi Empuk Seattle – ET Hadi Saputra

Pensiun bukan berarti berhenti mengatur dunia, melainkan momen pintu putar paling sempurna untuk naik kelas (lagi). Ketika mantan penjaga kas negara langsung mendarat di pelukan yayasan miliarder terkaya dunia, kita harus bertanya: apakah ini pengabdian tulus atau realisasi janji manis masa lalu?

Saya duduk di beranda, menyesap kopi yang makin pahit karena berita pagi ini. Mantan Menteri Keuangan kita yang fenomenal kini resmi menjadi pengurus di Bill & Melinda Gates Foundation. Hebat, katanya. Prestasi dunia, katanya. Tapi saya tahu ini hanya babak baru dari permainan lama bernama revolving door—pintu putar bagi pejabat pensiun menuju pelukan korporasi atau yayasan global.

Dulu saat menjabat, beliau sangat ramah terhadap agenda kesehatan dan pangan dari yayasan ini di Indonesia. Kini, setelah meninggalkan Lapangan Banteng, beliau duduk di kursi pengurus di sana. Secara hukum formal tak ada yang salah, tapi moral publik adalah cerita lain. Ini seperti kucing penjaga gudang ikan yang disiplin: begitu pensiun, langsung diangkat konsultan utama di pabrik pengalengan ikan milik juragan besar. Kucing itu tahu persis lokasi kunci gudang lama dan waktu penjaga baru lengah.

Kita bicara pengaruh. Beliau menguasai semua celah birokrasi dan kebijakan fiskal kita. Kini, pengetahuan itu berada di tangan yayasan asing dengan agenda besar vaksin, data medis, dan rekayasa pangan. Kebetulan? Saya rasa tidak. Di dunia kekuasaan, kebetulan langka—yang ada hanya investasi jangka panjang yang baru cair.

Bacaan Lainnya

Lihat nanti bagaimana kebijakan dalam negeri terus selaras dengan narasi yayasan itu. Sang mantan menteri punya akses langsung untuk membisiki cara masuk pasar Indonesia berbungkus filantropi. Saya hanya orang hukum yang skeptis. Integritas tak berhenti saat jabatan selesai—ia tentang ke mana ilmu dan koneksi dibawa setelah tak lagi digaji rakyat.

Penutup saya sederhana: Selamat atas jabatan baru, Bu. Semoga Ibu tak lupa bahwa yang membesarkan nama Ibu adalah uang pajak rakyat jelata, bukan dolar dari Seattle.

Pos terkait