INTIP24NEWS.COM – Tiga tahun setelah virus itu muncul, Cina adalah satu-satunya negara besar yang masih berusaha menghentikan penularan COVID-19. Strategi “nol COVID”-nya telah membatasi warganya untuk hidup lebih normal selama berpekan-pekan. Beberapa kota melakukan tes virus setiap hari pada jutaan penduduk mereka .
Itu membuat angka infeksi Cina jauh lebih rendah daripada Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya. Tetapi kesabaran publik telah menipis. Orang-orang yang dikarantina di rumah di beberapa daerah mengatakan mereka.
mengalami kekurangan makanan dan obat-obatan. Partai yang berkuasa menghadapi kemarahan publik menyusul kematian dua anak yang orang tuanya mengatakan kontrol anti-virus menghambat upaya mereka mendapatkan bantuan medis.
Protes saat ini meletus setelah kebakaran yang Kamis lalu menewaskan sedikitnya 10 orang di sebuah gedung apartemen di kota Urumqi, wilayah barat laut Cina. Mereka telah terkurung dalam rumah setidaknya selama empat bulan. Hal itu memicu curahan kemarahan di dunia maya, mempertanyakan apakah orang yang mencoba menyelamatkan diri pun terhalang karena pintu yang dikunci dari luar.
Para pengunjuk rasa yang frustrasi dan marah dengan ketatnya kebijakan penanggulangan COVID-19 di Cina, berunjuk rasa menuntut Xi Jinping mundur. Unjuk rasa yang digelar di Shanghai dan tujuh kota lainnya di Republik Rakyat Cina, Ahad (27/11) itu menjadi unjuk rasa pertama yang berani menuntut turunnya pemimpin Cina yang disebut-sebut kian menjelma menjadi diktator tersebut.
Polisi menggunakan semprotan merica untuk mengusir para demonstran di Shanghai yang menyerukan agar Xi Jinping mundur dan mengakhiri kekuasaan satu partai. Tetapi beberapa jam kemudian orang-orang berkumpul lagi di tempat yang sama. Polisi kembali membubarkan demonstrasi, dan seorang reporter melihat beberapa pengunjuk rasa diseret polisi yang membawa mereak dengan bus.
Protes yang dimulai Jumat lalu itu telah menyebar ke kota-kota, termasuk ibu kota Beijing. Protes juga melanda puluhan kampus universitas dan merupakan demo oposisi paling luas terhadap partai yang berkuasa, dalam beberapa dekade.
Dalam video protes di Shanghai yang diverifikasi The Associated Press, terdengar yel-yel dan nyanyian menentang Xi dan Partai Komunis Cina. Yel-yel seperti “Xi Jinping mundur! PKC Enyah!”, terdengar dominan.
Sekitar 300 demonstran Sabtu malam lalu berkumpul di Shanghai, sebagai bagian kecil dari 25 juta orang dikurung di rumah mereka, sejak akhir Maret lalu.
Di Jalan Urumqi, sekelompok pengunjuk rasa membawa lilin, bunga, dan tanda untuk menghormati mereka yang tewas dalam kobaran api. Kelompok lain, menurut seorang pengunjuk rasa yang tidak mau disebutkan namanya, lebih aktif dengan meneriakkan slogan-slogan dan menyanyikan lagu kebangsaan.
Pemrotes tersebut dan seorang lainnya yang hanya memberikan nama keluarga, Zhao, mengkonfirmasi yel-yel terhadap Xi. Warga Cina telah memberikan kepada dirinya masa jabatan lima tahun ketiga sebagai pemimpin partai yang berkuasa. Beberapa kalangan di Cina bahkan berharap agar Xi bisa berkuasa seumur hidup.





















































