Erupsi Gunung Anak Krakatau Semburkan Abu Vulkanik, Ganggu Sejumlah Penerbangan di Bandara Soetta

Tangerang, intip24news.com – Bandar Udara (Bandara) Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, ditutup sementara pada Minggu (6/9/2026). Penghentian aktifitas penerbangan tersebut imbas dari sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau yang terdeteksi belasan kali erupsi dari Rabu (08/07) hingga Jumat (10/07).

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Lukman F. Laisa mengatakan penutupan Bandara Soekarno-Hatta dilakukan berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26.

Keputusan tersebut diambil setelah hasil paper test yang dilakukan pada pukul 00.35-01.05 WIB menunjukkan adanya indikasi sebaran abu vulkanik di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.

Kemenhub mencatat sebanyak 33 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terdampak aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berdasarkan pemantauan hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 22.00 WIB.

Bacaan Lainnya

Untuk penerbangan internasional, terdapat 16 pembatalan, tujuh penundaan, dan lima penerbangan yang dijadwalkan kembali.

Sejumlah rute internasional yang terdampak antara lain penerbangan dari dan menuju Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam, serta Kuala Lumpur.

Sementara untuk penerbangan domestik, tercatat empat pembatalan dan satu penerbangan dialihkan. Rute yang terdampak antara lain penerbangan dari dan menuju Lampung, Denpasar, serta Surabaya.

Kemenhub menyatakan terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan operator penerbangan, pengelola bandara, penyedia layanan navigasi penerbangan, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau sebelumnya terjadi pada awal hingga pertengahan Desember 2023. Saat itu, ketinggian abu dari 200 hingga 2.000 meter di atas puncak kawah.

Badan Geologi melalui Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan Gunung Anak Krakatau pada Status Level III (Siaga), pada Rabu (08/07).

PVMBG juga merekomendasikan “masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius tiga km dari kawah aktif.”

Pemerintah Kabupaten Serang, Banten, juga memastikan destinasi wisata pantai di Anyer dan Cinangka tetap aman dikunjungi. Pasalnya lokasi itu berjarak 42 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.

“Kondisi Gunung Anak Krakatau melandai dan dinyatakan aman. Kami mengajak wisatawan, baik lokal maupun luar daerah, untuk tidak khawatir menghabiskan libur sekolah bersama keluarga di pesisir Serang,” kata Wakil Bupati Serang, Muhammad Najib Hamas, Senin (06/07).

Sementara itu, Polda Lampung memasang plang imbauan di sejumlah titik strategis untuk mengingatkan kewaspadaan masyarakat, wisatawan, dan nelayan agar tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau.

Vulkanolog dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Mirzam Abdurrachman berkata aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini relatif tidak berbahaya dan aman bagi masyarakat untuk beraktivitas di pesisir Banten dan Lampung.

“Letusan dan longsor mungkin terjadi, tapi tidak sebesar pada 2018, karena tubuhnya belum setinggi 2018,” kata Mirzam.

Pasalnya, ujarnya, Gunung Anak Krakatau sedang bertumbuh dan meninggi, setidaknya untuk mencapai kondisi pada 2018.

Namun yang perlu diperhatikan, kata Mirzam, adalah seberapa cepat pertumbuhan Gunung Anak Krakatau dan volume yang dikeluarkan.

Mirzam membagi fase pertumbuhan itu dalam tiga periode.

Pertama kemunculan Gunung Anak Krakatau pada 1927 hingga tahun 1960. Dibutuhkan waktu sekitar 33 tahun untuk bertumbuh, lalu sebagian tubuh gunung itu untuk longsor.

Kedua pertumbuhan dari 1961 hingga 2018. Di periode ini, dibutuhkan waktu sekitar 58 tahun.

Ketiga yaitu pertumbuhan dari 2019 hingga 2026. Dalam periode ini, siklus erupsi terjadi secara teratur setiap dua tahun, dengan kecenderungan pertumbuhan yang cepat.

“Yang perlu diamati, pertumbuhan Anak Krakatau itu mengikuti periode yang mana? Kalau periode satu atau dua, maka untuk mencapai ketinggian yang kemudian longsor diprediksi pada tahun 2100-an,” ujar Mirzam.

“Tapi kalau trennya dari 2019 sampai sekarang itu cepat sekali dan diprediksi bisa mencapai ketinggian yang sama dengan 2018 hanya dalam empat tahun ke depan, yaitu 2030.”

“Ini yang kemudian kita harus hati-hati. Pelajaran terakhir yang diberikan Krakatau tidak boleh terulang lagi,” kata Mirzam.



Pos terkait