INTIP24NEWS | LEBAK – Ribuan warga Kecamatan Bayah yang tergabung dalam Aliansi Bayah Menggugat (ABM), melakukan aksi demonstrasi di depan area Pabrik PT. Cemindo Gemilang (Pabrik Semen Merah Putih ) di Desa Darmasari, Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Kamis (17/2/2022).
Aksi warga ini sempat diwarnai kericuhan antara massa aksi dengan petugas kepolisian yang berjaga.
Saling dorong tidak bisa dihindarkan, saat massa mencoba merangsek untuk masuk ke area pabrik semen. Bahkan, sempat terjadi baku hantam antara pendemo dan petugas kepolisian.
Beruntung aksi kericuhan bisa segera diredam, dan massa aksi pun kembali melanjutkan aksinya sambil berorasi secara bergantian.
Koordinator aksi, Budi Supriadi, dalam orasinya menjelaskan, bahwa aksi warga dilakukan sebagai bentuk kekecewaan kepada perusahaan pemegang merk semen Merah Putih tersebut , yang dianggap mengabaikan tuntutan warga.
“Pabrik Semen ini telah mengabaikan kewajiban mereka terhadap warga, baik dalam rekrutmen karyawan maupun perhatian sosial lainnya. Makanya kami turun langsung menggelar demo, dengan harapan adanya perbaikan yang dilakukan oleh perusahaan, dan keberadaan perusahaan harus lebih banyak memberikan dampak positif kepada kami sebagai warga yang terdampak,” Ujar Budi.
Budi mencontohkan, pemilik sawah di Cinangga Lebak, Desa Bayah Timur, menjerit karena sawahnya kering akibat ulah perusahaan. Warga yang berdekatan dengan lokasi tambang pun khawatir rumahnya roboh karena retak-retak, akibat aktifitas peledakan tambang oleh perusahaan.
“Lalu, warga yang berdekatan dengan area bongkar muat dermaga milik PT Cemindo Gemilang, terimbas debu batubara dan debu yang dihasilkan oleh pabrik semen.” Kata Budi.
“Itu hanya salah satu contoh dampak dari sekian banyak dampak lainnya yang dirasakan oleh masyarakat di Kecamatan Bayah.” Tambahnya.
“Kami tidak akan berhenti melakukan aksi selama perusahaan banyak merugikan warga. Kami berhak menuntut hak kami sebagai warga yang harus diperhatikan oleh perusahaan. Kami berharap, suara kami bisa didengar oleh pemangku kebijakan,” pungkas Budi.
Hal senada disampaikan Marto, salah satu warga di Desa Pamubulan. Marto mengaku setiap hari dihantui perasaan takut akan getaran peledakan tambang dan kebisingan yang disebabkan oleh konveyor pembawa material semen.
“Belum lagi soal dampak debu yang kami rasakan. Bayangkan saja Pak, setiap ada peledakan, rumah kami bergetar seperti gempa saja. Kami mau hidup tenang seperti sebelum adanya perusahaan,” keluh Marto.
Marto berharap, adanya perhatian dari pemerintah dan para pemangku kebijakan kepada warga di Kecamatan Bayah yang terdampak. Serta adanya tindakan tegas kepada perusahaan yang telah abai dan cenderung merugikan warga.
(DD/ TLB)


















































