Tahun Baru 1445 Hijriyah; Umat Islam Harus Berubah Nasib

Membangun persatuan ke arah yang lebih produktif dan strategis penting dilakukan secara kolektif. Sembari mengeliminasi ananiyah hizbiyah atau fanatisme golongan yang sering merusak ukhuwah Islamiyah.

Umat Islam masih belum solid dan kohesif sebagai kesatuan umat, masih terpecah-belah dalam orientasi masing-masing, tidak jarang saling serang satu sama lain.

Golongan umat yang besar penting berbagi dan terkoneksi dengan saudara lainnya,  tidak berjalan sendiri, apalagi ingin mendominasi dan menghegemoni.

Sementara lainnya jangan terus sibuk mencari kesalahan pihak lain, lebih-lebih di era media sosial yang bebas, dengan mudah saling menyesatkan dan memandang lainnya ancaman.

Bacaan Lainnya

Umat dan para tokoh umat sebaiknya tidak mudah berselisih secara keras dan terbuka dalam berbagai perkara, sehingga banyak menghabiskan energi.

Ukhuwah Islamiyah memang indah dalam ajaran dan ujaran, tetapi miskin pembuktian. Satu isu dengan mudah ditanggapi dan disikapi dengan keras, sehingga masalah menjadi meluas.

Orientasi politik keumatan juga sangat keras dan cenderung “ta’arudh” atau “mu’aradhah”, yakni serba menentang dan melawan siapa saja dengan secara  konfrontatif, sehingga sering kehilangan orientasi “muwajahah ” atau langkah yang konstruktif dan strategis.

Pihak manapun jangan terus menyuburkan isu, lembaga, dan tokoh yang hanya menjadi benih konflik, masalah, fitnah, dan kerusakan di tubuh umat Islam.

Di tahun baru hijriyah 1445 penting dilakukan rekonstruksi kesadaran kolektif seluruh umat Islam Indonesia untuk bangkit mengubah nasib sendiri sebagaimana spirit Islam dalam Al-Quran, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS Ar-Ra’d: 11).





Pos terkait