China ke NATO, Berhentilah Membuat Onar dan Tinggalkan Mentalitas Perang Dingin

INTIP24NEWS.COM – Utusan khusus China untuk PBB Zhang Jun berbicara pada sidang Dewan Keamanan bahwa krisis yang sedang berlangsung di Ukraina adalah hasil dari ekspansi NATO yang terus berlanjut ke arah timur.

Utusan itu mendesak blok militer pimpinan AS untuk meninggalkan mentalitas Perang Dinginnya dan berhenti menjadi “pembuat onar”, Jumat (17/2).

Dia juga mengungkapkan perilaku NATO yang kontradiktif, di mana satu sisi NATO mempromosikan dirinya sebagai “aliansi defensif” sementara pada saat yang sama terus berusaha melanggar batas geografis dan memperluas agendanya, memicu perpecahan dan ketegangan, serta menciptakan ketakutan dan konfrontasi.

“Alasan utama masalah keamanan Eropa saat ini adalah upaya NATO dalam mengejar keamanan absolut dan pengucilan politik kepada negara-negara tertentu,” klaim duta besar China untuk PBB Zhang Jun.

Bacaan Lainnya

“Mengejar keamanan absolut dan pengucilan dan penahanan (sanksi) politik secara paksa terhadap negara tertentu adalah inti dari alasan mengapa Eropa berada dalam situasi keamanan yang buruk,” katanya.

“Eropa, dan bahkan seluruh dunia, akan terjebak dalam kekacauan yang lebih besar, kecuali NATO mengubah pola pikirnya,” tambah diplomat itu.

Zhang mengulangi seruan China untuk gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina, dan mendesak mereka untuk memulai negosiasi perdamaian sesegera mungkin.

Dia juga menyarankan agar AS, UE, dan NATO duduk bersama Moskow untuk dialog yang komprehensif dan mendalam berdasarkan prinsip keamanan yang tidak dapat dipisahkan.

“Mereka harus mendiskusikan bagaimana membangun arsitektur keamanan yang seimbang, efektif, dan berkelanjutan serta mewujudkan keamanan bersama,” katanya, seraya menambahkan bahwa sangat penting untuk menghentikan setiap upaya untuk menyulut konflik guna menghindari eskalasi dan perluasan lebih lanjut.

Sementara itu, hubungan Beijing sendiri dengan AS memburuk ke posisi terendah atas jatuhnya balon mata-mata China yang dijatuhkan di wilayah Amerika.

AS telah mengumumkan akan menutup komunikasi militer dengan China setelah insiden itu dan menjatuhkan sanksi pada perusahaan dan institusi China yang terlibat.

Namun Beijing membantah tuduhan itu, dengan alasan balon itu adalah pesawat sipil.
Meski demikian, pihaknya berjanji akan melakukan pembalasan atas insiden tersebut dan telah mengurangi hubungan militer dan diplomatiknya dengan AS.

Beijing juga telah berulang kali mengkritik Washington karena mengizinkan sejumlah pejabat AS melakukan kunjungan berulang kali ke Taiwan, yang dianggap China sebagai bagian dari wilayah kedaulatannya.

Menurut pemerintah China, Gedung Putih juga terus memberi lampu hijau penjualan senjata untuk militer Taiwan, sehingga Beijing memberlakukan sanksi terhadap produsen senjata AS Raytheon dan Lockheed Martin.

Sumber: RT
Editor: Hasan M

Pos terkait