Perang di Ukraina, yang menurut badan kemanusiaan PBB telah merenggut nyawa sedikitnya 28.000 warga sipil, seakan menghidupkan lagi Perang Dingin di antara kekuatan-kekuatan besar dunia, termasuk China.
Ketegangan Amerika Serikat dengan China
Meski menyerukan deeskalasi konflik dan saling menghormati kedaulatan, China dinilai masih ambigu karena belum secara tegas menentang atau mengutuk operasi militer Rusia di Ukraina.
Sebaliknya, Beijing malah menyinggung “mentalitas” Perang Dingin dalam konflik tersebut.
“Keamanan sebuah kawasan seharusnya tidak diperjuangkan dengan memperkuat atau memperluas blok militer,” tulis Kementerian Luar Negeri China pada 24 Februari 2023, tepat setahun invasi Rusia di Ukraina.
Pernyataan itu tampaknya ditujukan kepada AS dan sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yang telah mengambil posisi untuk tidak berhadapan secara langsung dengan Rusia sejak perang itu meletus.
Ukraina bukanlah anggota NATO sehingga tidak mendapatkan jaminan keamanan dari blok militer itu. Namun, besarnya bantuan yang diterima Kiev dari negara-negara anggota NATO secara individual, terutama bantuan persenjataan dari AS, bisa dilihat sebagai “perang proksi”.
Pernyataan China soal “memperluas blok militer” tadi seakan memperingatkan bahwa jika Ukraina diterima menjadi anggota NATO, konflik tersebut akan meluas karena aliansi pertahanan itu menjamin “bahwa setiap serangan terhadap salah satu dari mereka adalah serangan terhadap semuanya”.
Ketegangan China dengan AS lebih sering dipicu oleh persoalan Taiwan, pulau dengan pemerintahan sendiri yang dianggap Beijing sebagai bagian dari “China yang satu”.
Persoalan tersebut mungkin tidak seruncing sekarang jika Washington konsisten mengakui kebijakan “One China” sejak menjalin hubungan diplomatik secara resmi dengan Beijing pada 1 Januari 1979.























































