Namun, dengan bersandar pada Taiwan Relations Act yang disahkan pada tahun yang sama, AS malah melakukan hubungan tak resmi dengan Taiwan, yang tidak hanya mencakup kerja sama ekonomi, tetapi juga pertahanan, termasuk penjualan senjata.
Sepanjang 2023, Kongres AS menyetujui empat kali penjualan amunisi ke Taiwan dengan nilai total mencapai 1 miliar dolar (sekitar Rp15,42 triliun). Dalam rencana penjualan terakhir, AS akan mengirim peralatan komunikasi taktis senilai 300 juta dolar.
Langkah Washington itu, menurut Beijing, telah “mengirimkan pesan yang salah kepada pihak-pihak yang menginginkan ‘kemerdekaan Taiwan’”.
Hubungan AS dan Taiwan juga terlihat semakin intens ketika keduanya saling melakukan kunjungan rutin.
Usai “mampir” di Los Angeles untuk menemui Ketua DPR AS Kevin McCarthy pada 6 April, pemimpin Taiwan Tsai Ing-wen menerima kunjungan sejumlah senator AS di Taipei beberapa hari kemudian.
Ambiguitas AS inilah yang kerap membuat hubungannya dengan China menjadi tegang. Tidak jarang, Beijing meresponsnya dengan keras, termasuk unjuk kekuatan dengan menggelar latihan perang di sekitar Teluk Taiwan.
Perang dagang dan perang tarif juga masih membayangi hubungan AS-China, dan yang terbaru, mereka terlibat dalam perang semikonduktor.
Ketika Presiden AS Joe Biden dan Presiden China Xi Jinping bertemu di sela-sela KTT APEC di San Fransisco pada November, dunia berharap ketegangan dua negara itu bakal mereda.
Namun, meski menghasilkan sejumlah komitmen bersama, pertemuan itu masih menjadi ajang untuk saling menegaskan sikap masing-masing.
Menurut Gedung Putih, Biden menegaskan dalam pertemuan itu bahwa AS akan terus membela kepentingannya dan kepentingan negara-negara sekutu dan mitra AS.
Seraya mengakui bahwa AS dan China sedang terlibat dalam persaingan, Biden mengatakan bahwa dunia berharap kedua negara bisa menghadapi persaingan itu secara bertanggung jawab untuk mencegah konflik, konfrontasi dan Perang Dingin yang baru.
Perspektif global 2024
Melihat situasi geopolitik sepanjang tahun 2023, persaingan di antara kekuatan-kekuatan besar dunia tampaknya masih menjadi ancaman keamanan global pada tqhun 2024.























































