Mengutip Tempo.co, istilah Nepo Baby terbilang baru memasuki leksikon atau perbendaharaan kata. Dilansir dari Yourdictionary.com, Jakob Eiseman dalam artikelnya menyebut kata “nepotism baby” pertama kali dipopulerkan pada 2010-an. Istilah ini dimunculkan oleh aktris Bollywood Kangana Ranaut. Dia menggunakan kata “nepotism” untuk mengkritik Karan Johar, produser film terkemuka India.
Setelah digunakan selama satu dekade, istilah ini kemudian disingkat jadi Nepo Baby. Menurut Nate Jones dari Vulture, sebagaimana dinukil Jakob, salah satu contoh paling awal dari nepotism baby yang disingkat menjadi ‘Nepo Baby’ muncul dalam postingan pada 2020 di blog Pop Culture Died. Artikel itu menggambarkan Olivia Jade sebagai ikon Bling Ring Alexis Haines.
Menurut Jacob, dua artikel viral yang dirilis pada 19 Desember 2022 meroketkan penggunaan istilah Nepo Baby di arus utama. Dua artikel itu adalah “Bagaimana bayi Nepo lahir” oleh Nate Jones di Vulture dan “Cerita sampul majalah New York yang sangat menganalisis boom Nepo-bayi Hollywood” oleh Priyanka Mantha.
Menurut Jacob, dua artikel viral yang dirilis pada 19 Desember 2022 meroketkan penggunaan istilah Nepo Baby di arus utama. Dua artikel itu adalah “Bagaimana bayi Nepo lahir” oleh Nate Jones di Vulture dan “Cerita sampul majalah New York yang sangat menganalisis boom Nepo-bayi Hollywood” oleh Priyanka Mantha.
Jokowi disebut melakukan politik dinasti alias nepotisme setelah eks Ketua Mahkamah Konstitusi atau MK Anwar Usman, yang juga ipar Jokowi atau paman Gibran, memutuskan kepala daerah boleh maju di Pilpres. Gibran lalu diusung Koalisi Indonesia Maju sebagai cawapres.
Al Jazeera melaporkan penampilan Gibran dalam debat cawapres berhasil menepis anggapan Nepo Baby itu. “Menepis tuduhan kurangnya pengalaman dan nepotisme, Gibran, putra Presiden Presiden Indonesia saat ini, Joko “Jokowi’ Widodo, yang berusia 36 tahun, mendominasi panggung meskipun berhadapan dengan kandidat yang lebih berpengalaman,” tulis Al Jazeera.
Menurut para pengamat, kinerja Gibran di debat cawapres jauh melebihi harapan. Alexander Arifianto, seorang peneliti di Sekolah Studi Internasional S Rajaratnam di Singapura (RSIS), mengatakan bahwa orang-orang yang meragukan putra Jokowi itu sepenuhnya salah.



















































