Meski Ditentang Anggota NATO, AS Berencana Pasok Bom Tandan ke Ukrakna

Namun AS memilih melakukannya karena pasukan Ukraina disebut mulai kehabisan amunisi.

Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih Jake Sullivan mengatakan, Ukraina telah memberikan jaminan tertulis bahwa mereka akan menggunakan bom klaster dengan sangat hati-hati guna meminimalkan risiko bagi warga sipil.

Bom klaster adalah bom yang terbuka di udara dan melepaskan bom berukuran lebih kecil (bomblets) di area yang luas.
Bom tersebut dirancang untuk menghancurkan tank, peralatan militer, pasukan, dan melibas banyak sasaran pada saat bersamaan.

Bom klaster diluncurkan dengan senjata artileri yang sama yang telah disediakan AS dan sekutunya ke Ukraina untuk perang seperti howitzer. AS terakhir menggunakan bom klaster di Irak pada tahun 2003.

Bacaan Lainnya

Ia memutuskan untuk tidak terus menggunakannya karena konflik bergeser ke lingkungan perkotaan dengan populasi sipil yang lebih padat.
Penggunaan bom klaster tidak melanggar hukum internasional.

Namun jika ia dikerahkan terhadap warga sipil, tindakan itu bisa menjadi pelanggaran.
The Convention on Cluster Munition adalah traktat internasional yang melarang penggunaan bom klaster.

Konvensi itu telah diikuti lebih dari 120 negara. Para pihak setuju untuk tidak menggunakan, memproduksi, mentransfer atau menimbun senjata tersebut dan memusnahkannya setelah digunakan.
AS, Rusia, dan Ukraina belum menandatangani perjanjian tersebut.

sumber : Reuters

Pos terkait