Dari Eropa ke Samigaluh, Inovasi Batu Bata Interlock Ramah Lingkungan dari Putra Kulon Progo

Yogyakarta, intip24news.com
Minggu 6 Juli 2025

Di tengah derasnya arus modernisasi dan urbanisasi, sosok Fendi Adiatmono hadir sebagai inspirasi nyata bagi masyarakat Kulon Progo, Yogyakarta. Degree Ph.D dari perguruan tinggi ternama di kota kecil Leiden Netherlands ini bukan hanya dikenal karena prestasi akademiknya yang gemilang dengan puluhan jurnal internasional dan hak paten yang telah digunakan oleh perusahaan nasional maupun internasional, tetapi juga karena dedikasinya yang tulus mengabdi untuk kemajuan kampung halamannya di Samigaluh.

Setelah menimba ilmu dan berkarier di luar negeri, Fendi memilih kembali ke desa kelahirannya dengan sikap rendah hati dan figur yang sederhana. Ia aktif sebagai Dewan Pembina Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) DPD Kulon Progo, berperan aktif dalam membangun komunitas dan mendorong pengembangan usaha lokal.

Salah satu karya inovatifnya adalah pengembangan Batu Bata Interlock dengan metode pengerasan menggunakan sinar matahari, bukan pembakaran pada suhu tinggi seperti pada umumnya.

Bacaan Lainnya

Batu bata ini memiliki kekuatan tekan (compressive strength) yang setara dengan batu bata interlock yang dibakar pada suhu 800°C, namun dengan biaya produksi yang jauh lebih efisien karena mengurangi kebutuhan energi dan operasional.

Inovasi ini tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga membuka peluang bagi pembangunan yang lebih terjangkau dan berkelanjutan di wilayah pedesaan.

Batu Bata Interlock adalah solusi konstruksi modern yang semakin diminati karena bentuknya yang saling mengunci, sehingga mengurangi penggunaan semen dan mempercepat proses pembangunan.

Selain itu, bata ini memiliki daya tahan tinggi terhadap gempa, isolasi suara yang baik, dan mampu menjaga suhu ruangan tetap sejuk, sangat sesuai dengan iklim tropis Yogyakarta.

Dengan biaya produksi yang ditekan seminimal mungkin, produk Fendi berpotensi besar untuk meningkatkan kualitas hunian masyarakat tanpa membebani ekonomi mereka.

Dalam sebuah wawancara mendalam, Fendi menyampaikan filosofi hidupnya yang berlandaskan ajaran Islam, mengutip hadis riwayat Thabrani: “Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.”

Prinsip inilah yang menjadi motivasi utama dalam setiap langkahnya, baik dalam riset maupun pengabdian masyarakat.

Meski berstrata 3 dari universitas terkemuka, Fendi enggan menggunakan gelar tersebut dalam pergaulan sehari-hari, mencerminkan kerendahan hati dan kesederhanaannya.

Keputusan meninggalkan karier di luar negeri dan memilih hidup di pedesaan menunjukkan komitmen kuatnya untuk membawa perubahan positif secara langsung di tanah kelahirannya.

Dengan semangat inovasi dan pengabdian, Adiatmono (nama panggilan untuk orang Eropa) menjadi teladan bagi generasi muda Kulon Progo dan Yogyakarta pada umumnya.

Usaha pengembangan batu bata interlock yang ramah lingkungan dan ekonomis ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan infrastruktur yang berkualitas, sekaligus memberdayakan masyarakat lokal secara berkelanjutan.
(Adhi)

Pos terkait