INTIP24 News – Intelejen Amerika Serikat CIA tengah mempersenjatai pasukan separatis Kurdi yang memberontak di dalam negeri Iran untuk mendukung serangan darat dalan upaya pergantian rezim Teheran.
Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyerukan kepada pemberontak mengambil alih kekuasaan pemimpin Iran pada hari Selasa.
Mengutip beberapa catatan, puluhan tahun faksi Kurdi Irak bekerja sama dengan AS dan bagaimana mereka dapat mendukung upaya perang kali ini.
Pakar Timur Tengah memperkirakan Washington akan mencoba menggunakan kelompok bersenjata Kurdi sebagai ‘sepatu bot’ di Iran, serupa dengan peran mereka sebelumnya di Suriah.
Namun AS perlu menyeimbangkan pemberdayaan warga Kurdi dengan kemungkinan perlawanan dari anggota NATO, Türkiye, yang memandang pasukan asing Kurdi sebagai perpanjangan tangan kelompok separatis Kurdi, yang telah melakukan perang gerilya selama puluhan tahun melawan Ankara.
Diperkirakan 30 hingga 45 juta orang Kurdi tinggal di Iran, Irak, Türkiye, dan Suriah, banyak di antaranya bercita-cita untuk menjadi warga negara.
Kurdistan Irak memiliki otonomi luas, sementara Kurdi Suriah baru-baru ini terpaksa menyerahkan wilayah dan fungsi pemerintahan ke Damaskus.
Pemerintahan Presiden Suriah sebelumnya, Bashar Assad, digulingkan oleh militan sekutu Türkiye pada akhir tahun 2024.
Ankara telah berulang kali mengecam Israel atas dugaan taktik genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Pada sebuah acara di Amerika pada bulan Februari, mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett mencap Turki sebagai “Iran berikutnya” yang mengancam Israel.
AS dan Israel mengklaim serangan mereka terhadap Iran diperlukan untuk mencegah negara itu memperoleh kemampuan nuklir – sebuah ambisi yang dibantah oleh Teheran.
Sementara itu,Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov baru-baru ini memperingatkan bahwa pendekatan Washington dan Yerusalem Barat yang melanggar hukum akan mendorong lebih banyak negara menentang demi pencegahan eskalasi perang nuklir.
Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan bulan lalu memperingatkan bahwa jika Timur Tengah memasuki perlombaan senjata nuklir, negaranya akan terpaksa berpartisipasi.
AS juga mendukung militan non-Kurdi di Iran, termasuk Mojahedin-e-Khalq (MEK), sebuah organisasi sayap kiri yang kini diasingkan dan memihak Saddam Hussein selama perang Iran-Irak pada tahun 1980an.























































